Dalam sebuah kisah ada diceritakan tentang Luqman Hakim telah masuk ke dalam pasar bersama-sama anaknya. Luqman Hakim menaiki himar, manakalah anaknya mengikutinya dari belakang dengan hanya berjalan kaki. Melihat tingkah laku Luqman itu, setengah orang pun berkata, ‘Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki.”
Setelah mendengarkan desas-desus dari orang ramai maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat yang demikian, maka orang di pasar itu berkata pula, “Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang adab anak itu.”
Sebaik saja mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang ramai pula berkata lagi, “Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, adalah sungguh menyiksakan himar itu.”
Oleh kerana tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, “Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderai.”
Dalam perjalanan mereka kedua beranak itu pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasihatai anaknya tentang sikap manusia dan telatah mereka. Kata Luqman kepada anaknya : “Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah S.W.T saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu.”
Kisah di atas sememangnya sudah sering kita mendengarnya dari mulut-mulut penceramah ataupun daripada pembacaan kita secara langsung ataupun tidak. ia merupakan gambaran dunia di mana setiap apa yang kita laksanakan pasti dilihat berbeza-beza pada pandangan manusia. lihatlah bagaimana keadaan Luqman dan anaknya. setiap yang mereka lakukan ada sahaja yang dipertikaikan oleh manusia. Begitulah halnya dengan hidup kita di bumi Allah ini yang mana kita tidak akan lepas daripada pandangan dan nilaian manusia. apa yang penting, apabila kita melakukan sesuatu perkara utama yang harus kita fikirkan ialah nilaian Allah bukan nilaian manusia. Misalnya setelah tamat waktu bekerja ada di antara kita yang balik lewat sedikit dari masa yang dibenarkan. Maka tentu ada mulut-mulut manusia yang berbunyi mengatakan " nak bodek boslah tuh." Tetapi apabila kita balik awal dari kebiasaannya, maka terdengar pula mulut-mulut manusia yang mengatakan bahawa kita semakin malas dan berkira dengan kerja.
Itu hanyalah sekadar contoh sahaja, bukan niat bersangka buruk dengan sesiapa. Satu contoh di mana untuk menggambarkan sifat manusia yang tidak pernah senang terhadap orang lain. Hatinya kotor, sakit dan bernanah kerana sentiasa memandang dari sudut yang salah terhadap orang lain. Pada pandangannya, setiap perkara yang dilakukan oleh orang lain adalah sentiasa salah walaupun dia sendiri melihat ada kebenarannya. Orang sebegini akan sentiasa mencari jalan agar setiap tindakan yang betul itu akan dilihat salah oleh orang lain. Itulah jiwa orang yang sedang menderita sakit. Amat malang sekali kerana dia tidak menyedari dirinya adalah pesakit yang sedang menderita kerana hatinya diserang virus yang sangat berbahaya dan bisa membunuh jiwanya secara perlahan-lahan. Dia tidak sedar bahawa dia sedang mengidap penyakit yang sangat kronik dan perlukan pembedahan rohani pada kadar segera.
Buat diri kita yang lemah ini, ingatlah bahawa nilaian Allah itu yang paling penting. Jangan risau pada nilaian manusia. Biarlah apa orang mahu kata, tetapi risaulah jika Allah yang murka pada kita. Biarlah orang mencaci dan mengeji kita, tetapi janganlah kita tergolong dalam golongan yang Allah tidak mahu pandang di akhirat nanti. Biarlah kita nampak pelik pada pandangan manusia, tetapi jangan kita dilihat jelik pada pandangan Allah.
Selamat berubah kepada kehidupan Baru
salam ukhwah..
Saturday, April 4, 2009
Sunday, March 22, 2009
Hukum MLM Oleh Majlis Ulama Indonesia
DI BAWAH INI ADALAH HUKUM MLM OLEH MAJLIS ULAMA INDONESIA
Fatwa Hukum MLM
Oleh
Majlis Ulama Indonesia
Akhir-akhir ini di tengah-tengah masyarakat Indonesia muncul sistem perdagangan baru yang dikenal dengan istilah Multi Level Marketing yang disingkat MLM. Sistem perdagangan ini dipraktekkan oleh berbagai perusahaan, baik yang berskala lokal, nasional, regional maupun internasional. Di antaranya adalah Amway, Uni Beauty Shop International (UBSI) dan DNX Indonesia. Sistem perdagangan semacam ini sangat menggiurkan sebagian anggota masyarakat karena menjanjikan keuntungan besar dalam waktu yang relatif singkat.
Sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) dilakukan dengan cara menjaring calon nasabah yang sekaligus berfungsi sebagai konsumen dan member dari perusahaan yang melakukan praktek MLM. Secara rinci, sistem perdagangan Multi Level Marketing MLM) dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Mula-mula pihak perusahaan berusaha menjaring konsumen untuk menjadi member dengan cara mengharuskan calon konsumen membeli paket produk perusahaan dengan harga tertentu.
b. Dengan membeli paket produk perusahaan tersebut, pihak pembeli diberi satu formulir keanggotaan (member) dari perusahaan.
c. Sesudah menjadi member, maka tugas berikutnya adalah mencari calon member-member baru dengan cara seperti di atas, yakni membeli produk perusahaan dan mengisi formulir keanggotaan.
d. Para member baru juga bertugas mencari calon member-member baru lagi dengan cara seperti di atas, yakni membeli produk perusahaan dan mengisi formulir keanggotaan.
e. Jika member mampu menjaring member-member baru yang banyak, maka ia akan mendapat bonus dari perusahaan. Semakin banyak member yang dapat dijaring, maka semakin banyak pula bonus yang akan didapatkan, karena perusahaan merasa diuntungkan oleh banyaknya member yang sekaligus menjadi konsumen paket produk perusahaan.
f. Dengan adanya para member baru yang sekaligus menjadi konsumen paket produk perusahaan, maka member yang berada pada level pertama (member awal/ pelopor), kedua dan seterusnya akan selalu mendapatkan bonus secara estafet dari perusahaan karena perusahaan merasa diuntungkan dengan adanya member-member baru yang sekaligus menjadi konsumen paket produk perusahaan.
Di antara perusahaan MLM, ada yang melakukan kegiatan menjaring dana masyarakat untuk menanamkan modal di perusahaan tersebut dengan janji akan memberikan keuntungan sebesar hampir 100 % dalam setiap bulannya. Akan tetapi dalam prakteknya, tidak semua perusahaan mampu memberikan keuntungan seperti yang dijanjikan, bahkan terkadang berusaha menggelapkan dana nasabah yang menjadi member perusahaan. Berkenaan dengan hal ini, Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta memfatwakan:
1. Bahwa sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) diperbolehkan oleh syari'at Islam dengan syarat¬-syarat sebagai berikut:
a. Transaksi (akad) antara pihak penjual (al-ba'i) dan pembeli (al-musytari) dilakukan atas dasar suka sama suka (' an taradhin), dan tidak ada paksaan;
b. Barang yang diperjualbelikan (al-mabi') suci, bermanfaat dan transparan sehingga tidak ada unsur kesamaran atau penipuan (gharar);
c. Barang-barang tersebut diperjualbelikan dengan harga yang wajar.
Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 275:
وَأَحَلَّ اللّهُ البَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا(275) البقرة
Artinya:
Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. AI-Baqarah, 2: 275
Demikian juga firman-Nya dalam surat an-Nisa 29:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيما(29) النساءً
Ayat:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. An-Nisa', 4: 29
Jika sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) dilakukan dengan cara pemaksaan; atau barang yang diperjualbelikan tidak jelas karena dalam bentuk paket yang terbungkus dan sebelum transaksi tidak dapat dilihat oleh pembeli, maka hukumnya haram karena mengandung unsur kesamaran atau penipuan (gharar). Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim, sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ اْلغَرَرِ ( رواه مسلم)
Artinya:
Rasulullah SAW melarang terjadinya transaksi jual beli yang mengandung gharar"
2. Jika harga barang-barang yang diperjualbelikan dalam sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) jauh lebih tinggi dari harga yang wajar, maka hukumnya haram karena secara tidak langsung pihak perusahaan telah menambahkan harga barang yang dibebankan kepada pihak pembeli sebagai sharing modal dalam akad syirkah mengingat pihak pembeli sekaligus akan menjadi member perusahaan, yang apabila ia ikut memasarkan akan mendapatkan keuntungan secara estafet. Dengan demikian, praktek perdagangan Multi Level Marketing (MLM) tersebut mengandung unsur kesamaran atau penipuan (gharar) karena terjadi kekaburan antara akad jual beli (al-bai'), syirkah, sekaligus mudlarabah karena pihak pembeli sesudah menjadi member juga berfungsi sebagai 'amil (pelaksana/ petugas) yang akan memasarkan produk perusahaan kepada calon pembeli (member) baru.
3. Jika perusahaan Multi Level Marketing (MLM) melakukan kegiatan menjaring dana masyarakat untuk menanamkan modal di perusahaan tersebut dengan janji akan memberikan keuntungan tertentu dalam setiap bulannya, maka kegiatan tersebut adalah haram karena melakukan praktek riba yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah SWT. Apalagi dalam kenyataannya tidak semua perusahaan mampu memberikan keuntungan seperti yang dijanjikan, bahkan terkadang menggelapkan dana nasabah yang menjadi member perusahaan. Sebagaimana telah difirmankan Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 279:
وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ(279) البقرة
Artinya:
Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. AI-Baqarah, 2: 279.
Berhubung di antara sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) ada yang diharamkan oleh syari' at Islam, maka hendaklah Umat Islam agar berhati-hati dalam melakukan kegiatan perdagangan dengan system Multi Level Marketing (MLM). Pilihlah sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) yang benar-benar diperbolehkan oleh syari'at Islam karena memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan di atas.
Negara asal : Indonesia
Negeri : Jakarta
Badan yang mengisu fatwa : Majelis Ulama Indonesia DKI Jakarta
Tarikh Diisu : 2000
Fatwa Hukum MLM
Oleh
Majlis Ulama Indonesia
Akhir-akhir ini di tengah-tengah masyarakat Indonesia muncul sistem perdagangan baru yang dikenal dengan istilah Multi Level Marketing yang disingkat MLM. Sistem perdagangan ini dipraktekkan oleh berbagai perusahaan, baik yang berskala lokal, nasional, regional maupun internasional. Di antaranya adalah Amway, Uni Beauty Shop International (UBSI) dan DNX Indonesia. Sistem perdagangan semacam ini sangat menggiurkan sebagian anggota masyarakat karena menjanjikan keuntungan besar dalam waktu yang relatif singkat.
Sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) dilakukan dengan cara menjaring calon nasabah yang sekaligus berfungsi sebagai konsumen dan member dari perusahaan yang melakukan praktek MLM. Secara rinci, sistem perdagangan Multi Level Marketing MLM) dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Mula-mula pihak perusahaan berusaha menjaring konsumen untuk menjadi member dengan cara mengharuskan calon konsumen membeli paket produk perusahaan dengan harga tertentu.
b. Dengan membeli paket produk perusahaan tersebut, pihak pembeli diberi satu formulir keanggotaan (member) dari perusahaan.
c. Sesudah menjadi member, maka tugas berikutnya adalah mencari calon member-member baru dengan cara seperti di atas, yakni membeli produk perusahaan dan mengisi formulir keanggotaan.
d. Para member baru juga bertugas mencari calon member-member baru lagi dengan cara seperti di atas, yakni membeli produk perusahaan dan mengisi formulir keanggotaan.
e. Jika member mampu menjaring member-member baru yang banyak, maka ia akan mendapat bonus dari perusahaan. Semakin banyak member yang dapat dijaring, maka semakin banyak pula bonus yang akan didapatkan, karena perusahaan merasa diuntungkan oleh banyaknya member yang sekaligus menjadi konsumen paket produk perusahaan.
f. Dengan adanya para member baru yang sekaligus menjadi konsumen paket produk perusahaan, maka member yang berada pada level pertama (member awal/ pelopor), kedua dan seterusnya akan selalu mendapatkan bonus secara estafet dari perusahaan karena perusahaan merasa diuntungkan dengan adanya member-member baru yang sekaligus menjadi konsumen paket produk perusahaan.
Di antara perusahaan MLM, ada yang melakukan kegiatan menjaring dana masyarakat untuk menanamkan modal di perusahaan tersebut dengan janji akan memberikan keuntungan sebesar hampir 100 % dalam setiap bulannya. Akan tetapi dalam prakteknya, tidak semua perusahaan mampu memberikan keuntungan seperti yang dijanjikan, bahkan terkadang berusaha menggelapkan dana nasabah yang menjadi member perusahaan. Berkenaan dengan hal ini, Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta memfatwakan:
1. Bahwa sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) diperbolehkan oleh syari'at Islam dengan syarat¬-syarat sebagai berikut:
a. Transaksi (akad) antara pihak penjual (al-ba'i) dan pembeli (al-musytari) dilakukan atas dasar suka sama suka (' an taradhin), dan tidak ada paksaan;
b. Barang yang diperjualbelikan (al-mabi') suci, bermanfaat dan transparan sehingga tidak ada unsur kesamaran atau penipuan (gharar);
c. Barang-barang tersebut diperjualbelikan dengan harga yang wajar.
Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 275:
وَأَحَلَّ اللّهُ البَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا(275) البقرة
Artinya:
Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. AI-Baqarah, 2: 275
Demikian juga firman-Nya dalam surat an-Nisa 29:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيما(29) النساءً
Ayat:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. An-Nisa', 4: 29
Jika sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) dilakukan dengan cara pemaksaan; atau barang yang diperjualbelikan tidak jelas karena dalam bentuk paket yang terbungkus dan sebelum transaksi tidak dapat dilihat oleh pembeli, maka hukumnya haram karena mengandung unsur kesamaran atau penipuan (gharar). Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim, sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ اْلغَرَرِ ( رواه مسلم)
Artinya:
Rasulullah SAW melarang terjadinya transaksi jual beli yang mengandung gharar"
2. Jika harga barang-barang yang diperjualbelikan dalam sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) jauh lebih tinggi dari harga yang wajar, maka hukumnya haram karena secara tidak langsung pihak perusahaan telah menambahkan harga barang yang dibebankan kepada pihak pembeli sebagai sharing modal dalam akad syirkah mengingat pihak pembeli sekaligus akan menjadi member perusahaan, yang apabila ia ikut memasarkan akan mendapatkan keuntungan secara estafet. Dengan demikian, praktek perdagangan Multi Level Marketing (MLM) tersebut mengandung unsur kesamaran atau penipuan (gharar) karena terjadi kekaburan antara akad jual beli (al-bai'), syirkah, sekaligus mudlarabah karena pihak pembeli sesudah menjadi member juga berfungsi sebagai 'amil (pelaksana/ petugas) yang akan memasarkan produk perusahaan kepada calon pembeli (member) baru.
3. Jika perusahaan Multi Level Marketing (MLM) melakukan kegiatan menjaring dana masyarakat untuk menanamkan modal di perusahaan tersebut dengan janji akan memberikan keuntungan tertentu dalam setiap bulannya, maka kegiatan tersebut adalah haram karena melakukan praktek riba yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah SWT. Apalagi dalam kenyataannya tidak semua perusahaan mampu memberikan keuntungan seperti yang dijanjikan, bahkan terkadang menggelapkan dana nasabah yang menjadi member perusahaan. Sebagaimana telah difirmankan Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 279:
وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ(279) البقرة
Artinya:
Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. AI-Baqarah, 2: 279.
Berhubung di antara sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) ada yang diharamkan oleh syari' at Islam, maka hendaklah Umat Islam agar berhati-hati dalam melakukan kegiatan perdagangan dengan system Multi Level Marketing (MLM). Pilihlah sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) yang benar-benar diperbolehkan oleh syari'at Islam karena memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan di atas.
Negara asal : Indonesia
Negeri : Jakarta
Badan yang mengisu fatwa : Majelis Ulama Indonesia DKI Jakarta
Tarikh Diisu : 2000
Antara MLM ( Multi Level Marketing ) dan Syariah
Sudah terlalu lama sebenarnya saya menyimpan hasrat untuk memasukkan pandangan Ustaz Hj. Zaharuddin ( UZAR ) berkaitan dengan MLM ini. Namun kerana ingin menjaga hati rakan-rakan yang kebanyakkannya turut terlibat dengan perniagaan jenis MLM ini saya tangguhkan hasrat hati saya ini. Namun, sehari dua ini gerak hati saya kuat menyuruh saya memasukkan pandangan Ustaz Zaharuddin untuk kebaikkan bersama. Seboleh mungkin saya ingin meminta rakan-rakan saya membaca tulisan ini dengan hati yang terbuka, seterusnya menilai dengan tenang samada perniagaan MLM yang mereka sertai selama ini benar-benar selamat ataupun bercanggah dengan kehendak syariat. Saya juga mohon maaf kepada rakan-rakan yang selalu mengajak saya menyertai apa jua skim MLM selama ini tetapi saya menolak. Saya memang teringin menyertainya, tetapi saya perlu menolaknya kerana saya tidak pasti berkaitan hukumnya. Saya memang ingin menjadi kaya di dunia ini, tetapi saya lebih takut sekiranya saya menjadi miskin di akhirat nanti. Selamat membaca dan menilai. Semoga Allah membukakan hati bagi mereka yang benar-benar mencari keredhaannya. wallahua'lam
Isu Syariah Dalam Perniagaan MLM
Dipetik daripada www.zaharuddin.net
Oleh : Ust Hj Zaharuddin Hj Abd Rahman
Jualan Pelbagai Peringkat atau lebih dikenali sebagai ‘Multi Level Marketing' atau MLM adalah amat popular di Malaysia. Dalam pada masa yang sama, sistem yang sama juga digunakan oleh industri penjualan Saham Amanah Islam dan beberapa produk Takaful. Statistik tahun 2003 menunjukkan industri MLM Malaysia mencatatkan jualan RM 4 bilion dan lebih dari 3 juta orang Malaysia terlibat dalam urusniaga MLM.
Akibat dari kebanjiran produk dan syarikat yang menggunakan sistem ini dalam mempromosi dan penjualan produk mereka. MLM kini boleh dianggap sebagai sebuah sistem pemasaran yang diterima ramai. Bagaimanapun, amat jarang dijumpai ilmuan Shariah samada dalam atau luar negara yang ingin atau berminat untuk menghuraikan sistem ini dari aspek Shariah dengan terperinci dan konkrit. Ini mungkin disebabkan kerumitan atau kurangnya minat ilmuan Shariah untuk mendalami proses sistem ini.
Para ‘Ustaz' dan Multi Level Marketing
Saya juga tidak dapat lari dari dibanjiri soalan demi soalan berkenaan hal ini. Pada awalnya, saya cuba untuk mengelak disebabkan terlampau banyak bentuk dan jenis MLM ini hingga menyukarkan sesiapa juga untuk memandu dan menerangkan hukumnya secara jelas. Di tambah pula mengenagkan pengikut dan pengamalnya yang terlalu ramai dan kebanyakkannya pula kelihatan ‘taksub' dan amat yakin akan halalnya kaedah MLM ini.
Tidak kurang juga terdapat para graduan Shariah atau pengajian Islam yang digelar ‘Ustaz' dan Ustazah' yang juga kuat berkempen produk-produk syarikat dengan skim MLM. Lebih hangat dan meriah lagi, kumpulan ini kerap mendakwa ianya halal lalu diselitkan dengan pelbagai dalil Al-Quran dan Hadith yang menggalakkan umat Islam berniaga, kuat ekonomi dan lain-lain. Hakikatnya, dalil-dalil ini bukanlah khusus untuk menyokong MLM dan perniagaan piramid mereka.
Ikhlas saya ingin nyatakan di sini, agak ramai juga orang ramai yang terpengaruh dengan kempenan dari kumpulan ilmuan agama seperti ini, menyebabkan orang ramai menyertainya tanpa berfikir lagi berkenaan halal atau haramnya sesuatu produk itu kerana ia telah diiktiraf oleh seorang ‘ustaz'. Justeru, saya ingin menasihatkan semua rakan-rakan lulusan Shariah dan Pengajian Islam agar lebih berhati-hati memberikan sebarang hukum dan merujuk dengan lebih mendalam sebelum berkempen dan mendakwa halalnya sesuatu produk hanya semata-mata kerana ia mendapat keuntungan besar di dalamnya. Ini kerana agak ramai juga saya dapati orang ramai yang berkiblatkan ustaz tertentu dalam kempen MLM mereka. Berkatalah Al-Laith bin Sa'ad : « Seandainya orang-orang yang memiliki pemahaman halal dan haram meneliti masalah ini, pastilah mereka tidak akan membolehkannya kerana terdapat di dalamnya unsur perjudian » ( Riwayat Al-Bukhari, no 2346 ). Sayyidina Umar al-Khattab r.a telah mengingatkan:
لا يبع في سوقنا إلا من قد تفقه في الدين
Ertinya : "Jangan seseorang kamu berjual beli di pasar kami, kecuali ia telah mendalami ilmu (hukum) agama tentangnya" ( Riwayat Tirmidzi, no 487, hlm 129 ; Albani : Hasan)
Bagi membantu masyarakat yang semakin ‘hangus' dalam industri ini, saya merasakan adalah elok untuk saya berkongsi panduan umum Shariah dalam hal penggunaan MLM ini. Bagaimanapun, saya tidaklah mampu untuk menujukan tulisan ringkas ini kepada mana-mana jenama MLM yang wujud di Malaysia mahupun luar negara. Tulisan ini hanya memberikan sedikit gambaran dan garis panduan yang diletakkan oleh undang-undang Islam dalam hal MLM ini.
Pengertian MLM
Secara umum ‘Multi Level Marketing' adalah suatu cara perniagaan alternatif yang berkaitan dengan pemasaran yang dilakukan melalui banyak level (tingkatan), yang biasa dikenal dengan istilah ‘Upline' (tingkat atas) dan ‘Downline' (tingakt bawah), orang akan disebut ‘Upline' jika mempunyai ‘Downline'. Pokok utama dari perniagaan MLM ini digerakkan dengan jaringan ini, sama ada yang bersifat ‘vertikal' atas bawah mahupun ‘horizontal kiri kanan' ataupun gabungan antara keduanya. (Lihat All About MLM oleh Benny Santoso hal: 28, Hukum Syara MLM oleh Hafidz Abd Rahman, MA)
Bentuk MLM yang Haram atau syubhat
Ada beberapa bentuk sistem MLM yang jelas keharamannya atau keraguannya, iaitu apabila ia menggunakan sistem berikut :
1) Harga tinggi dari biasa : Menjual produk yang diperjualbelikan dalam sistem MLM dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga biasa, ia adalah amat tidak digalakkan menurut Islam malah menurut sebahagian ulama, aqad seperti ini adalah terbatal. Tatkala itu, ia digelar ‘Gabhnun Fahisyh' menurut istilah ulama Fiqh. Hukum jualan secara ‘Ghabnun Fahisy' ini diperbezakan oleh ulama antara harus, makruh dan haram. (Durar al-Hukkam Fi Syarh Majallah al-Ahkam, klausa no 356, hlm 369). Bagaimana Nabi SAW pernah mengisyaratkannya sebagai suatu kezaliman jika berlaku kepada orang yang tidak mengetahui selok belok harga barang. (Al-Qawaid, Ibn Rusyd, hlm 601)
Bagaimanapun perlu diingat, dalam satu MLM mungkin terdapat 3 atau 4 unsur syubhat dan haram yang akan saya sebutkan. Ini tidaklah bermakna saya mengatakan MLM haram hanya kerana adanya unsur "Harga Lebih Tinggi dari Biasa" , ia cuma salah satu unsur yang perlu disemak dan boleh memburukkan lagi hukum sesuatu MLM sehingga boleh jatuh tahap haram kerana penipuan dalam keadaan tertentu yang lain.
Apa yang ingin saya nyatakan ‘Ghabnun' di sini adalah yang dibuat dalam bentuk penipuan harga kepada orang awam, iaitu harga yang sengaja dinaikkan kerana merangkumkan yuran penyertaan dalam system priamid. Sebagai contoh saya pernah ‘terpaksa' membeli sebuah produk MLM. Oleh kerana tukang jual MLM ini amat sukar beralah, dan saya ingin ia cepat menamatkan kempenanannya dengan adab, lalu saya belilah satu produknya yang termurah, iaitu sebiji bantal yang dikatakan sangat hebat, harganya mencecah RM300 sebiji. Inilah namanya 'Ghabnun', sedangkan bantal tersebut rupa-rupanya langsung tiada istimewanya setelah digunakan. Maka jelas harganya dinaikkan kerana penyertaan sebagai ahli dan masuk dalam sistem. Tapi saya senyapkan saja keahlian dan langsung tidak bergerak, membeli hanya kerana kasihan dengan si penjual yang dikenali ini sahaja.
Inilah maksud saya mempunyai unsur ‘Ghabnun', mungkin unsur ini tidak cukup kuat untuk menjadikannya haram, tetapi ia salah satu unsur yang memberi kesan kepada aqad, kesan ini apabila ia bergabung dengan unsur-unsur syubhat yang lain, ia boleh menjadi haram.
Sebagai Makluman :
Mazhab Hanafi : terbahagi kepada 3 pandangan, iaitu ada ulamanya yang mengatakan ghabnun harus walaupun Fahisyh, kedua : Haram , ketiga : Haram bila ada usnur penipuan sahaja ( Syarh ad-Dur , AL-Haskafi, 2/82 )
Mazhab Maliki : Juga ulama mereka berbagai pandangan : Pertama : Ghabnun Mustrasil samada Yasir atau fahsiyh : Haram ; Kedua : Ghabnun lebih tinggi 1/3 dari harga pasaran biasa tanpa adalah HARAM. ( Al-Qawaid : Ibn Rusyd , hlm 601 ; AL-Qawaid Al-Fiqhiyyah, Ibn Juzay, hlm 294)
Mazhab Syafie : Harus hukumnya kecuali pandangan ganjil dari al-Mutawaali yang mengharamkannya . ( Al-Majmu' , 7/500 )
Mahzab Hanbali : Ibn Quddamah berkata : "Ghabn Mustarsil adala apabila si pembeli membeli dengan harga yang terkeluar dari harga pasaran ... teruatamanya apabila didesak ( agar tak pergi semak kedai-kedai lain dulu) dan cuba disegerakan oleh penjual " ( Al-Mughni , 4/78 )
Justeru, perbincangan panjang tentang 'Ghabn' sebenarnya menunjukkan terdapat jenis 'Ghabn' yang disepakati haramnya oleh ulama, ada yang disepakati halalnya, dan terdapat yang diperbezakan pandangan. Justeru apabila saya sebut 'ghabn' sebagai salah satu sebab boleh jadikan MLM haram, maka ini kerana berkemungkinan jenis yang disepakati haram itu berlaku. Justeru, semasa menulis artikel anda perlu faham target saya. Adakah anda yakin semua jenis 'Ghabn' yang berlaku dalam MLM itu tergolong dari golongan yang harus ?. Jika ye, maka itu pandangan anda , bukan saya. Saya lebih selesa berpandangan ia banyak jenis 'Ghabn' yang berlaku lebih menjurus kepada haram terutamanya apabila hampir semua syarikat-syarikat MLM ini amat mengambil mudah akan hal hukum agama. Jika tidak, pastinya mereka telah mengambil Penasihat Shariah sejak dari awal.
2) Jualan target sebagai syarat komisyen : Selain dari yuran yang wajib dibayar oleh ahli, pada kebiasaannya terdapat syarat yang mewajibkan ahli tersebut mencapai target jualan tertentu bagi melayakkannya mendapat apa jua komsiyen dari hasil jualan orang di bawahnya. Apabila ia gagal mencapai ‘harga target' tersebut maka keahliannya akan hilang atau tiada sebarang komisyen untuknya walaupun orang bawahannya menjual dengan begitu banyak. Semua MLM yang terlibat dengan syarat seperti ini, menyebabkan sistem MLM mereka menjadi bermasalah dari sudut Shariah kerana wujudnya unsur kezaliman terhadap ahli selain wujudnya kewajiban jualan bersyarat dengan syarat yang tidak menyebelahi ahli serta berbentuk penindasan. Seolah-olah pihak syarikat memaksanya dengan mengatakan "Anda mesti membeli atau mengekalkan penjualan peribadi sebanyak RM 500 sebulan bagi membolehkan anda mendapat hak komisyen orang bawahan anda".
Pada asasnya, komisyen yang diambil atas usaha menjual (seperti ‘brokerage fee') sesuatu barangan adalah adalah harus menurut Shariah, ia adalah pandangan ulama besar Tabi'en seperti Muhammad Ibn Sirin, ‘Ato' Bin Abi Rabah, Ibrahim an-Nakha'ie dan ramai lagi (Sohih Al-Bukhari ; Al-Musannaf, 5/242 ; Mawahibul Jalil, 4/452 ). Bagaimanapun, komisyen dalam hal MLM dan system piramdi ini boleh bertukar menjadi haram apabila :-
* Diikat komisyen jualan rangkaiannya dengan sesuatu jualan olehnya, ia menimbulkan masalah dari sudut Shariah seperti unsur pemaksaan, syarat yang tidak sah dalam perwakilan dan perjudian.
* Komisyen datang dari orang bawahan yang langsung tidak dikenalinya kerana sudah terlampau jauh ke bawah. Ini menjadikan orang atasan seolah-olah mendapat untung di atas angina tanpa sebarang kerja dan usaha lagi. Ia juga boleh dikelaskan sebagai broker di atas broker di atas briker di atas broker dan seterusnya. Dalam hal berbilangnya rantaian komsiyen broker ini, menurut perbincangan saya bersama Syeikh Prof. Dr Abd Sattar Abu Ghuddah (Pakar Shariah utama dalam bidang kewangan Islam dunia di Kesatuan Ulama Fiqh Sedunia, AAOIFI, Dow Jones Islamic Index dan lain-lain) ia termasuk dalam konteks memakan harta orang lain dengan bathil selain terdapat unsur judi. Ini adalah kerana ia seolah-olah meletakkan syarat kepada semua orang bawahan samada dengan pengetahuan mereka atau tidak, semua hasil jualan mereka akan diambil sebahagian keuntungannya untuk orang atasnya.
* Dari sudut yang lain, terdapat juga keraguan dalam isu pemberian komisyen di atas usaha dan tugas agen (wakil penjual) atau "brokerage" (tukang kempen). Ini kerana sepatutnya komisyen ke atas "brokerage" tidak harus mensyaratkan tukang kempen itu untuk membeli untuk diri sendiri sebagaimana yang berlaku dalam beberapa jenis MLM. Sesetengahnya pula mensyaratkan ‘broker' atau ‘agen' untuk menjual sendiri sebanyak sekian jumlah bagi memperolehi komisyen jualan broker (ahli) di bawahnya. Dengan sebab-sebab ini, hal ‘broker' atau ‘agen' menjadi syubhah dan tidak lagi benar ianya disifatkan sebagai komisyen wakil atau broker yang diterima Islam.
3) Jika ahli berdaftar menyertai MLM dengan yuran tertentu, tetapi tiada sebarang produk untuk diniagakan, perniagaannya hanyalah dengan mencari orang bawahanya (downline), setiap kali ia mendapat ahli baru, maka diberikan beberapa peratus dari yuran ahi tersebut kepadanya. Semakin banyak anggota baru bermakna semakin banyak jualah bonusnya. Ini adalah bentuk riba kerana memperdagangkan sejumlah wang untuk mendapat sejumlah lebih banyak yang lain di masa hadapan. Ia merupakan satu bentu Riba Nasiah dan Riba Al-Fadl. Hal yang sama juga hukumnya bagi perusahaan MLM yang tidak mempunyai produk bersungguh dan berkualiti, sebaliknya produk miliknya hanyalah berupa ruangan laman web yang tidak berfaedah buat kebanyakkan orang, atau apa jua produk yang hanya dijadikan sebagai alasan pembelian. Malah harga sebenar produknya juga adakalanya jauh dari harga yang dijual kepada ahli (sebagai contoh dijual produk web komputer, sedangkan haragnya jauh lebih tinggi dan si ahli pula tidak mempunyai komputer pun). Pada hakikatnya, si ahli bukannya ingin membeli produk itu, tetapi untuk menyertai rangkaian serta memperolehi wang darinya. Ia juga termasuk dalam yang diharamkan. Hal membeli produk tidak benar dengan niat utama memasuki rangkaian dan mendapat untung dari rangkaian ini telah difatwakan haram oleh Majlis Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah Arab Saudi no 15/192-193.
4) Terdapat juga syarikat MLM yang melakukan manipulasi dalam menjual produknya, atau memaksa pembeli untuk menggunakan produknya atau yang dijual adalah barang haram. Maka MLM tersebut jelas keharamannya. Namun tidak semua MLM begini, cuma sebahagianya sahaja.
5) Terdapat juga unsur mirip "shafqatayn fi shafqah", atau bay'atayn fi bay'ah, (iaitu dua aqad jenis jual beli dalam satu) yang dilarang oleh Baginda SAW dengan pelbagai lafaz antaranya : "
نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صفقتين في صفقة واحدة
Ertinya : "Rasulullah SAW melarang dari membuat dua belian (aqad) dalam satu aqad" ( Riwayat Ahmad, Al-Bazzar ; Al-Haithami : perawi Ahmad adalah thiqah ; 4/84 )
Ini berlaku apabila ada sebahagian syarikat MLM yang membuka pendaftaran ahlinya, setiap ahli perlu membayar sejumlah wang disebut yuran, tidak dapat dipastikan samada yuran tersebut untuk membeli kedudukan di dalam rangkaian ataupun membeli produk. Pada waktu yang sama, dengan termeterainya keahliannya itu, ia akan menjadi wakil pula bagi syarikat untuk merekrut ahli baru, maka tindakan MLM seperti ini, boleh dikatakan termasuk dalam kategori hadis : shafqatayn fi shafqah, atau bay'atayn fi bay'ah. Ini kerana, dalam hal ini, orang tersebut telah dikira melakukan transaksi aqad Mu'awadat (kontrak pertukaran hak kewangan) bila membeli produk atau menjadi ahli dan dalam masa yang sama masuk dalam satu jenis aqad lagi iaitu perwakilan (untuk menjualkan produk itu kelak di samping mencari ahli baru) dengan komisyen tertentu. Maka, praktis seperti ini jelas tergolong sebagaimana hadith di atas.
Ingin saya tekankan juga, hal berkaitan komisyen jualan orang di level keseratus akan diperolehi juga oleh upline di tingkat kedua, padahal mereka tiada sebarang kaitan aqad yang jelas, dan hanya kerana rantaian orang dibawahnya maka ia mendapat untung?. Apa yang diletakkan untuk mendapat untung?.
Sedangkan dalam contoh sebuah syarikat besar, seorang pemegang saham sememang layak dapat untung walaupun goyang kaki kerana ia meletakkan 'modal', sebagaimana yang diketahui , keuntungan boleh didapati dari tiga sebab iaitu 1) Modal 2) Kerja 3) Jaminan 'Dhoman' barangan dari sebarang aib pada barang yang dijual.
Lalu si pemegang modal berhak mendapat untung kerana ia letak modal, si pekerja layak mendapat untung kerana ia bekerja .. jadi apa hak si upline kedua untuk dapat untung jualan si downline ke seratus? Tiada modal, tiada kerja, tiada jaminan atau dhoman barangan yang dijual, kernaa jaminan barangan yang dijual adalah dari syarikat, bukan upline!.
Apa Maksud Sebenar Dua Aqad Dalam Satu ?
Shafqatain di Safqah dan lafaz yang seertinya denganya memang tidak dinafikan mempunyai banyak takrif dan tafsiran menurut kefahaman ulama yang berbeza. Manakala sesiapa yang hanya mendedahkan hanya beberapa kerat dari pandangan tersebut dan kemudian terus memegangnya. Tapi perlu diingat disana terdapat pelabagi tafsiran yang lain pula, dan saya memegang tafsiran yang lain. Maka itu tidak bererti tafsiran pegangan saya adalah salah, dan tafsiran pegangan anda mesti betul. Jika demikian perangainya, maka ini jelas tidak faham konsep ikhtilaf dalam nas.
Sebagai hadiah untuk awam dan pembaca yang mampu faham ini beberapa tafsiran tentang hadith dua aqad dalam satu mengikut beberapa kumpulan ulama silam dan kaitannya dengan MLM:-
1) iaitu contoh berkata penjual kepada pembeli : " Aku jual kepadamu baju ini dengan harga RM 10 tunai , atau RM 20 secara tangguh" , maka si pembeli bersetuju TANPA mengspecifickan plan tangguh atau tunai yang dikehendakinya. Ini bentuk yang ditafsirkan oleh Imam Malik, Abu Hanifah, At-Thawri, Ishak Rahawaih, Imam As-Syafie ( Syarh as-Sunah, Al-Baghawi, 8/142 ; ‘Aridathul Ahwazi, 5/240 ; Al-Mughni, Ibn Quddamah, 6/333; Al-Mudawwanah, 9/191 ).
Tiada khilaf di kalangan ahli ilmu, jenis ini adalah HARAM. Bagaimanapun tafsiran ini tidak berapa berkaitan dengan MLM, kerana biasnaya plan harga akan dipilih dengan tepat.
2) Iaitu contohnya pembeli : "jualkan kepadaku barangan ini dengan harga RM 10 tunai atau dengan sebuah radio pada tarikh akan datang", kemudian kedua-dua bersetuju tanpa memberikan yang mana satu mereka inginkan. Ini adalah tafsiran Imam Malik pula ( ‘Aridathul Ahwazi, 5/240 ) . Ini juga tiada kaitan dengan MLM.
3) Iaitu contohnya berkata seorang lelaki : "Aku jual kebunku ini dengan harga RM 10,000 dengan syarat kamu jualkan rumah kamu pula dengan harga RM 15,000" . Inilah juga tafsiran ulama mazhab Hanafi, Hanbali dan Syafie. ( Al-Mughni , 6/332 ; Al-Um, 3/67 ; ‘Aridatul Ahwazi, 5/239 )
Inilah tafsiran yang saya lihat ada kaitannya dengan kebanyakkan MLM. Iaitu berkata syarikat MLM kepada seorang ahli baru sebagai contoh : "aku jual barang water filter ini dengan harga RM 2000 dengan syarat engkau jadi wakil jualanku dengan komisyen sebanyak 3 % dari harga jualanmu dan aku beri mandate kamu untuk jadi lantik ahli baru dan setiap jualannya kamu akan dapat 1 % dengan syarat kamu ada jualan sendiri sebanyak RM 1000 setiap bulan"
Lihat, dalam contoh saya tu ada berapa jenis aqad muawadah maliah yang bersifat lazim?
a- Jual barang RM 2000 - Aqad jual beli yang bersifat lazim
b- Lantik jadi wakil dengan upah (Wakalah bil Ujr) - aqad wakalah yang bersifat lazim.
c- Beri mandate untuk cari ahli - ini tiada masalah
d- Setiap ahli yang kamu lantik jual kamu layak dapat 1% - Ini ju'alah, juga kelihatan tiada masalah.
e- Kamu hanya layak dapat 1 % ju'alah tadi dengan syarat kamu ada jualan sendiri RM 1000 - Ini ada syubhat sikit syarat seperti ini. Perlu perbincangan dan ijtihad.
Cuma, secara umum kita dapat melihat bergabungnya dua aqad mu'awadat maliah (pertukaran hak milik harta) yang bersifat Lazim. Jika aqad itu ghayru Lazim maka ia diharuskan, tetapi dalam hal ini dua aqad itu adalah "aqad lazim"
4) Iaitu seorang penjual menjual dua barangan berlainan harga iaitu kasut dengan harga RM 100 dan handphone dengan harga RM 700, tetapi ia membuatnya terikat, iaitu jika anda beli handphone, maka pembelian kasut juga menjadi wajib. Inilah takrif yang dipegang oleh Al-Qadhi Ibn Al-Arabi al-Maliki ( Al-Qabas Syarah Al-Muwatta', 2/842 ; Al-Muntaqa , 5/36) .
Ini juga mempunyai sedikit kaitan dengan MLM kerana meletakkan syarat satu aqad lain sebagai syarat untuk sesuatu aqad itu boleh ‘concluded'.
5) Iaitu contohnya : Berkata penjual : " Aku jual handphone ini dengan RM 100 dengan bayaran ansuran dalam 3 bulan, dengan syarat aku akan belinya semual darimu dengan harga RM 80 tunai" . Ini adalah tafsiran Ibn Taymiah dan Ibn Qayyim pula. Ia adalah sama dengan takrif Bai Inah. ( Mukhtasar Al-Fatawa Lib Ibn taymiah, hlm 327 ; Tahzib Mukhtasar Sunan Abi Daud, Ibn Qayyim, 5/100 )
Tafsiran ini agak kurang kaitannya dengan MLM.
Demikianlah beberapa takrifan dan tafsiran ulama tentang hadith dua aqad dalam satu. Sebenarnya ada terdapat 3 lagi tafsiran, Cuma cukuplah sebagai info tambahan kepada pembaca. Oleh kerana beberapa yang dilakukan dalam MLM ada terdapat dalam salah satu tafsirannya, maka saya masukkan point dua aqad di dalam satu sebagai isu yang boleh menjadikan MLM samada haram atau batal atau syubhat.
Keputusan Majma Fiqh Sedunia ?
Kesatuan Fiqh Sedunia (Majma' Fiqh Islami) pernah mengeluarkan fatwa ke atas satu bentuk perniagaan MLM jenama PT Biznas yang disifatkan sebagai haram kerana ia adalah salah satu bentuk perjudian. Selain itu, keputusan itu juga menafikan bahawa komisyen yang digunakan adalah komisyen atau upah ‘brokerage' sebagaimana didakwa. (Rujuk keputusan nombor 3/24, 17 Julai 2003). Selain itu, Syeikh Salim Al-Hilali pernah mengeluarkan fatwa pengharaman dengan katanya : "Banyak pertanyaan berkenaan perniagaan yang diminati ramai. Yang secara umum gambarannya adalah mengikuti kaedah piramid dalam sistem pemasarannya, dengan cara setiap anggota harus mencari ahli-ahli baru dan demikian selanjutnya. Setiap anggota membayar yuran pada syarikat dengan jumlah tertentu dengan angan-angan mendapat bonus, semakin banyak anggota dan memasarkan produknya maka akan semakin banyak bonus yang dijanjikan. Sebenarnya kebanyakan anggota MLM yang menyertai cara ini adalah hasil motivasi bonus yang dijanjikan tersebut dengan harapan agar cepat kaya dalam waktu yang sesingkat mungkin, padahal ia langsung tidak menginginkan produknya. Perniagaan jenis ini adalah perjudian murni, kerana beberapa sebab berikut, iaitu:
Ø Sebenarnya anggota MLM ini tidak mahukan produknya, akan tetapi tujuan utama mereka adalah menyertai rangkaian piramid bagi mendapatkan kekayaan cepat apabila setiap ahli baru membayar yuran.
Ø Harga produk yang dibeli sebenarnya tidak sampai 30% dari wang yang dibayarkan pada syarikat MLM.
Ø Tujuan perusahaan adalah membangun jaringan individu secara berkesinambungan. Yang mana ini akan menguntungkan anggota yang berada pada level atas (Upline) sedangkan level bawah (downline) selalu memberikan nilai point pada yang berada dilevel atas mereka.
Justeru, saya kira, amat tipis untuk mencari MLM yang tidak tergolong dalam item-item salah yang saya sebutkan di atas, malah saya juga suka menyarankan agar pengamal-pengamal jualan amanah saham dan Takaful secara wakil untuk lebih berhati-hati agar tidak terjerumus dalam bab MLM. Bagaimanapun, jika anda masih ingin mendakwa halalnya MLM ini, saya sarankan agar pengamal MLM memastikan asas minima Shariah berikut dapat dipatuhi :-
1. Produk MLM ini mestilah dibeli dengan tujuan yang sebenarnya (seperti produk yang benar-benar bermanfaat dan dibangunkan dengan serius seperti ubat-ubatan berkualiti, unik dan lainnya). Justeru, produk MLM yang kabur kualiti dan kegunaannya tidaklah dibenarkan kerana ia hanyalah bertujuan untuk mengabui dalam undang-undang dan hukum Shariah, ia tiadalah halal di sisi Shariah. Justeru, kekuatan MLM itu ialah kepada produknya yang bermutu dan bukan kepada objektif jangka pendek mengumpul dana (modal).
2. Produknya bukan emas dan perak yang boleh dijual beli secara tangguh. Ini kerana penjualan barangan emas secara tangguh adalah Riba jenis Nasiah.
3. Komisyen yang diberikan kepada ahli untuk setiap penjual dan ahli bawahannya mestilah jelas. Tiada komisyen tanpa usaha, ini bermakna orang atas hanya berhak mendapat komisyen dari ahli bawahan yang dibantunya sahaja.
4. Keuntungan dan komisyen bukan berdasarkan ‘kepala' atau ahli yang ditaja, tetapi adalah berdasarkan nilai produk yang berjaya di jualnya. Ini diperlukan bagi membuktikan ia menumpukan kepada perniagaan penjualan produk dan perkhidmatan dan bukannya permainan wang (money game).
5. Tidak diwajibkan bagi si ahli menjual jumlah tertentu bagi memperolehi komsiyen dari orang bawahannya.
6. Setiap ‘upline' atau orang di sebelah atas mestilah menaruh usaha atas jualan orang bawahannya, seperti mengadakan perjumpaan taklimat, motivasi dan teknik berkempen secara terancang seperti sebuah syarikat yang pelbagai ahlinya. Ia perlu bagi melayakkannya menerima komisyen itu dari sudut Shariah, jika tidak adalah dibimbangi ia akan terjerumus kepada keraguan ‘syubhah'. Ini kerana konsep niaga dalam Islam tidak membenarkan suatu keuntungan dari sesuatu perniagaan yang diperolehi tanpa usaha. Justeru, sedikit usaha perlu dicurahkan bagi menjadi sebab haknya ke atas komisyen. Perlu diingat, kebanyakan ahli di kaki yang 10 ke bawah, mungkin tidak mengenalinya lantaran ia dilantik oleh orang bawahannya yang kesembilan. Jika tidak, apakah haknya untuk mendapat komisyen yang demikian berangkai dan begitu jauh ?.
7. Tidak menggunakan skim piramid iaitu skim siapa masuk dulu akan untung selamanya. Manakala hak mereka yang masuk kemudian akan berkurangan. Justeru, plan pemasaran mestilah memberikan hak kepada semua, malah orang bawahan mampu mendapat keuntungan lebih dari orang atasannya, apabila ia mampu menjual dengan lebih hebat.
8. Mempersembahkan system komisyen dan bonus yang telus dan boleh difahami dan dipantau oleh ahli dengan jelas. Ia bagi mengelakkan segala jenis penipuan.
9. Menstruktur plan pemasaran di anatara ahli dan orang bawahannya secara musyarakah iaitu perkonsgian untung dan rugi berdasarkan modal masing-masing dengan nisbah pembahagian keuntungan yang ditetapkan di peringkat awal lagi.
Mana MLM alternatif??
"Kalau ustaz pandai sangat, kenapa tak tuliskan sahaja macam mana MLM yang menepati Shariah tu, biar orang boleh guna" Demikian tempelak seorang pemuda tanpa kesabaran melalui sebuah web.
Jawapan saya seperti berikut :-
Pertama : Memang ramai 'suruh', 'arah' dan minta saya sebutkan macam mana MLM yang harus serta realistik.
Inilah masalah orang ramai, tidak berfikir mendalam sebelum meminta. Kita kena faham, tak semua yang perniagaan diasakan ikut cara yang menpeati Shariah itu menarik pada pandangan mata orang ramai dan boleh laku untuk dijual di Malaysia, dan tak semua pula plan dan skim atau produk yang sangat boleh dijual dan menarik itu menepati hukum Shariah. Jadinya bagi menghasilkan satu plan hebat yang menepati Shariah dan boleh jual, perbincangan dua pihak antara Ilmuan Shariah & bisnesman amat perlu dalam hal ini.
Mana mungkin sebuah plan pemasaran MLM terbaik dapat dicadangkan hanya dengan mengemukakan permintaan mudah begitu sahaja kepada saya, ini kerana mungkin saya mempunyai penyelesaian dari sudut teori Shariahnya. Teori ini pula sebahagiannya bersifat fleksible dan tidak sebahagian yang lain, kerana itu perbincangan diperlukan dengan pihak pakar pemasaran demi memastikan samada ia 'viable' untuk diperkenalkan atau tidak. Kerana saya bukanlah pakar dalam bab pemasaran.
Kedua : Saya juga bukanlah seorang jutawan yang membolehkan saya memperkenalkan plan bisnes MLM contoh yang hebat dan menepati Shariah. Mudahnya, selagi tiada bisnesman Muslim yang punyai perhatian kuat tentang halal haram dan berkesudian berbincang dengan orang Shariah, selagi tu tidak akan didapati plan dan skim MLM alternatif yang menepati Shariah.
Untuk maklumat, proses inilah yang amat kerap kami (ilmuan Shariah sedunia, saya dan rakan-rakan ustaz di semua institusi kewangan Islam seluruh dunia) ; iaitu kami duduk berjam-jam dengan pakar pemasaran, peguam untuk mencipta produk kewangan Islam yang halal serta dalam masa yang sama aqad-aqadnya juga halal dan boleh diaplikasikan di sisi undang-undang Malaysia. Kesimpulan saya, jika hanya ada satu pihak sahaja yang bersungguh, ia pasti akan menjadi hasrat yang terbengkalai juga.
Akhirnya, saya tahu bahawa hukum MLM ini masih terbuka untuk perbincangan, malah Syeikh Dr Abd Sattar Abu Ghuddah ketika perbincangan dengan beliau mengakui ini isu yang agak baru baginya. Benar, amat sukar ditemui tulisan para ulama Islam dari Timur Tengah berkenaan hal MLM ini, disebabkan MLM belum masuk ke pasaran negara Arab dengan meluas. Justeru, menjadi tanggungjawab para ilmuan Shariah Asia Tenggara untuk membantu masyarakat untuk mengetahui pandangan Shariah tentang MLM ini. Tulisan ringkas saya hanyalah pandangan awal bagi memberi peringatan bahawa dengan sekadar pandangan, kelihatan begitu banyak keraguan boleh muncul dalam perniagaan MLM ini. Tidak perlulah pembaca merasa marah dan benci dengan tulisan ini. Ini sekadar nasihat bagi mereka yang mengambil berat tentang pendapatan serta memikirkan barzakh dan akhirat mereka yang kekal abadi. Wallahu ‘alam.
Kuala Lumpur, Malaysia (14 Zulhijjah 1427 H = 4 Januari 2007)
Isu Syariah Dalam Perniagaan MLM
Dipetik daripada www.zaharuddin.net
Oleh : Ust Hj Zaharuddin Hj Abd Rahman
Jualan Pelbagai Peringkat atau lebih dikenali sebagai ‘Multi Level Marketing' atau MLM adalah amat popular di Malaysia. Dalam pada masa yang sama, sistem yang sama juga digunakan oleh industri penjualan Saham Amanah Islam dan beberapa produk Takaful. Statistik tahun 2003 menunjukkan industri MLM Malaysia mencatatkan jualan RM 4 bilion dan lebih dari 3 juta orang Malaysia terlibat dalam urusniaga MLM.
Akibat dari kebanjiran produk dan syarikat yang menggunakan sistem ini dalam mempromosi dan penjualan produk mereka. MLM kini boleh dianggap sebagai sebuah sistem pemasaran yang diterima ramai. Bagaimanapun, amat jarang dijumpai ilmuan Shariah samada dalam atau luar negara yang ingin atau berminat untuk menghuraikan sistem ini dari aspek Shariah dengan terperinci dan konkrit. Ini mungkin disebabkan kerumitan atau kurangnya minat ilmuan Shariah untuk mendalami proses sistem ini.
Para ‘Ustaz' dan Multi Level Marketing
Saya juga tidak dapat lari dari dibanjiri soalan demi soalan berkenaan hal ini. Pada awalnya, saya cuba untuk mengelak disebabkan terlampau banyak bentuk dan jenis MLM ini hingga menyukarkan sesiapa juga untuk memandu dan menerangkan hukumnya secara jelas. Di tambah pula mengenagkan pengikut dan pengamalnya yang terlalu ramai dan kebanyakkannya pula kelihatan ‘taksub' dan amat yakin akan halalnya kaedah MLM ini.
Tidak kurang juga terdapat para graduan Shariah atau pengajian Islam yang digelar ‘Ustaz' dan Ustazah' yang juga kuat berkempen produk-produk syarikat dengan skim MLM. Lebih hangat dan meriah lagi, kumpulan ini kerap mendakwa ianya halal lalu diselitkan dengan pelbagai dalil Al-Quran dan Hadith yang menggalakkan umat Islam berniaga, kuat ekonomi dan lain-lain. Hakikatnya, dalil-dalil ini bukanlah khusus untuk menyokong MLM dan perniagaan piramid mereka.
Ikhlas saya ingin nyatakan di sini, agak ramai juga orang ramai yang terpengaruh dengan kempenan dari kumpulan ilmuan agama seperti ini, menyebabkan orang ramai menyertainya tanpa berfikir lagi berkenaan halal atau haramnya sesuatu produk itu kerana ia telah diiktiraf oleh seorang ‘ustaz'. Justeru, saya ingin menasihatkan semua rakan-rakan lulusan Shariah dan Pengajian Islam agar lebih berhati-hati memberikan sebarang hukum dan merujuk dengan lebih mendalam sebelum berkempen dan mendakwa halalnya sesuatu produk hanya semata-mata kerana ia mendapat keuntungan besar di dalamnya. Ini kerana agak ramai juga saya dapati orang ramai yang berkiblatkan ustaz tertentu dalam kempen MLM mereka. Berkatalah Al-Laith bin Sa'ad : « Seandainya orang-orang yang memiliki pemahaman halal dan haram meneliti masalah ini, pastilah mereka tidak akan membolehkannya kerana terdapat di dalamnya unsur perjudian » ( Riwayat Al-Bukhari, no 2346 ). Sayyidina Umar al-Khattab r.a telah mengingatkan:
لا يبع في سوقنا إلا من قد تفقه في الدين
Ertinya : "Jangan seseorang kamu berjual beli di pasar kami, kecuali ia telah mendalami ilmu (hukum) agama tentangnya" ( Riwayat Tirmidzi, no 487, hlm 129 ; Albani : Hasan)
Bagi membantu masyarakat yang semakin ‘hangus' dalam industri ini, saya merasakan adalah elok untuk saya berkongsi panduan umum Shariah dalam hal penggunaan MLM ini. Bagaimanapun, saya tidaklah mampu untuk menujukan tulisan ringkas ini kepada mana-mana jenama MLM yang wujud di Malaysia mahupun luar negara. Tulisan ini hanya memberikan sedikit gambaran dan garis panduan yang diletakkan oleh undang-undang Islam dalam hal MLM ini.
Pengertian MLM
Secara umum ‘Multi Level Marketing' adalah suatu cara perniagaan alternatif yang berkaitan dengan pemasaran yang dilakukan melalui banyak level (tingkatan), yang biasa dikenal dengan istilah ‘Upline' (tingkat atas) dan ‘Downline' (tingakt bawah), orang akan disebut ‘Upline' jika mempunyai ‘Downline'. Pokok utama dari perniagaan MLM ini digerakkan dengan jaringan ini, sama ada yang bersifat ‘vertikal' atas bawah mahupun ‘horizontal kiri kanan' ataupun gabungan antara keduanya. (Lihat All About MLM oleh Benny Santoso hal: 28, Hukum Syara MLM oleh Hafidz Abd Rahman, MA)
Bentuk MLM yang Haram atau syubhat
Ada beberapa bentuk sistem MLM yang jelas keharamannya atau keraguannya, iaitu apabila ia menggunakan sistem berikut :
1) Harga tinggi dari biasa : Menjual produk yang diperjualbelikan dalam sistem MLM dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga biasa, ia adalah amat tidak digalakkan menurut Islam malah menurut sebahagian ulama, aqad seperti ini adalah terbatal. Tatkala itu, ia digelar ‘Gabhnun Fahisyh' menurut istilah ulama Fiqh. Hukum jualan secara ‘Ghabnun Fahisy' ini diperbezakan oleh ulama antara harus, makruh dan haram. (Durar al-Hukkam Fi Syarh Majallah al-Ahkam, klausa no 356, hlm 369). Bagaimana Nabi SAW pernah mengisyaratkannya sebagai suatu kezaliman jika berlaku kepada orang yang tidak mengetahui selok belok harga barang. (Al-Qawaid, Ibn Rusyd, hlm 601)
Bagaimanapun perlu diingat, dalam satu MLM mungkin terdapat 3 atau 4 unsur syubhat dan haram yang akan saya sebutkan. Ini tidaklah bermakna saya mengatakan MLM haram hanya kerana adanya unsur "Harga Lebih Tinggi dari Biasa" , ia cuma salah satu unsur yang perlu disemak dan boleh memburukkan lagi hukum sesuatu MLM sehingga boleh jatuh tahap haram kerana penipuan dalam keadaan tertentu yang lain.
Apa yang ingin saya nyatakan ‘Ghabnun' di sini adalah yang dibuat dalam bentuk penipuan harga kepada orang awam, iaitu harga yang sengaja dinaikkan kerana merangkumkan yuran penyertaan dalam system priamid. Sebagai contoh saya pernah ‘terpaksa' membeli sebuah produk MLM. Oleh kerana tukang jual MLM ini amat sukar beralah, dan saya ingin ia cepat menamatkan kempenanannya dengan adab, lalu saya belilah satu produknya yang termurah, iaitu sebiji bantal yang dikatakan sangat hebat, harganya mencecah RM300 sebiji. Inilah namanya 'Ghabnun', sedangkan bantal tersebut rupa-rupanya langsung tiada istimewanya setelah digunakan. Maka jelas harganya dinaikkan kerana penyertaan sebagai ahli dan masuk dalam sistem. Tapi saya senyapkan saja keahlian dan langsung tidak bergerak, membeli hanya kerana kasihan dengan si penjual yang dikenali ini sahaja.
Inilah maksud saya mempunyai unsur ‘Ghabnun', mungkin unsur ini tidak cukup kuat untuk menjadikannya haram, tetapi ia salah satu unsur yang memberi kesan kepada aqad, kesan ini apabila ia bergabung dengan unsur-unsur syubhat yang lain, ia boleh menjadi haram.
Sebagai Makluman :
Mazhab Hanafi : terbahagi kepada 3 pandangan, iaitu ada ulamanya yang mengatakan ghabnun harus walaupun Fahisyh, kedua : Haram , ketiga : Haram bila ada usnur penipuan sahaja ( Syarh ad-Dur , AL-Haskafi, 2/82 )
Mazhab Maliki : Juga ulama mereka berbagai pandangan : Pertama : Ghabnun Mustrasil samada Yasir atau fahsiyh : Haram ; Kedua : Ghabnun lebih tinggi 1/3 dari harga pasaran biasa tanpa adalah HARAM. ( Al-Qawaid : Ibn Rusyd , hlm 601 ; AL-Qawaid Al-Fiqhiyyah, Ibn Juzay, hlm 294)
Mazhab Syafie : Harus hukumnya kecuali pandangan ganjil dari al-Mutawaali yang mengharamkannya . ( Al-Majmu' , 7/500 )
Mahzab Hanbali : Ibn Quddamah berkata : "Ghabn Mustarsil adala apabila si pembeli membeli dengan harga yang terkeluar dari harga pasaran ... teruatamanya apabila didesak ( agar tak pergi semak kedai-kedai lain dulu) dan cuba disegerakan oleh penjual " ( Al-Mughni , 4/78 )
Justeru, perbincangan panjang tentang 'Ghabn' sebenarnya menunjukkan terdapat jenis 'Ghabn' yang disepakati haramnya oleh ulama, ada yang disepakati halalnya, dan terdapat yang diperbezakan pandangan. Justeru apabila saya sebut 'ghabn' sebagai salah satu sebab boleh jadikan MLM haram, maka ini kerana berkemungkinan jenis yang disepakati haram itu berlaku. Justeru, semasa menulis artikel anda perlu faham target saya. Adakah anda yakin semua jenis 'Ghabn' yang berlaku dalam MLM itu tergolong dari golongan yang harus ?. Jika ye, maka itu pandangan anda , bukan saya. Saya lebih selesa berpandangan ia banyak jenis 'Ghabn' yang berlaku lebih menjurus kepada haram terutamanya apabila hampir semua syarikat-syarikat MLM ini amat mengambil mudah akan hal hukum agama. Jika tidak, pastinya mereka telah mengambil Penasihat Shariah sejak dari awal.
2) Jualan target sebagai syarat komisyen : Selain dari yuran yang wajib dibayar oleh ahli, pada kebiasaannya terdapat syarat yang mewajibkan ahli tersebut mencapai target jualan tertentu bagi melayakkannya mendapat apa jua komsiyen dari hasil jualan orang di bawahnya. Apabila ia gagal mencapai ‘harga target' tersebut maka keahliannya akan hilang atau tiada sebarang komisyen untuknya walaupun orang bawahannya menjual dengan begitu banyak. Semua MLM yang terlibat dengan syarat seperti ini, menyebabkan sistem MLM mereka menjadi bermasalah dari sudut Shariah kerana wujudnya unsur kezaliman terhadap ahli selain wujudnya kewajiban jualan bersyarat dengan syarat yang tidak menyebelahi ahli serta berbentuk penindasan. Seolah-olah pihak syarikat memaksanya dengan mengatakan "Anda mesti membeli atau mengekalkan penjualan peribadi sebanyak RM 500 sebulan bagi membolehkan anda mendapat hak komisyen orang bawahan anda".
Pada asasnya, komisyen yang diambil atas usaha menjual (seperti ‘brokerage fee') sesuatu barangan adalah adalah harus menurut Shariah, ia adalah pandangan ulama besar Tabi'en seperti Muhammad Ibn Sirin, ‘Ato' Bin Abi Rabah, Ibrahim an-Nakha'ie dan ramai lagi (Sohih Al-Bukhari ; Al-Musannaf, 5/242 ; Mawahibul Jalil, 4/452 ). Bagaimanapun, komisyen dalam hal MLM dan system piramdi ini boleh bertukar menjadi haram apabila :-
* Diikat komisyen jualan rangkaiannya dengan sesuatu jualan olehnya, ia menimbulkan masalah dari sudut Shariah seperti unsur pemaksaan, syarat yang tidak sah dalam perwakilan dan perjudian.
* Komisyen datang dari orang bawahan yang langsung tidak dikenalinya kerana sudah terlampau jauh ke bawah. Ini menjadikan orang atasan seolah-olah mendapat untung di atas angina tanpa sebarang kerja dan usaha lagi. Ia juga boleh dikelaskan sebagai broker di atas broker di atas briker di atas broker dan seterusnya. Dalam hal berbilangnya rantaian komsiyen broker ini, menurut perbincangan saya bersama Syeikh Prof. Dr Abd Sattar Abu Ghuddah (Pakar Shariah utama dalam bidang kewangan Islam dunia di Kesatuan Ulama Fiqh Sedunia, AAOIFI, Dow Jones Islamic Index dan lain-lain) ia termasuk dalam konteks memakan harta orang lain dengan bathil selain terdapat unsur judi. Ini adalah kerana ia seolah-olah meletakkan syarat kepada semua orang bawahan samada dengan pengetahuan mereka atau tidak, semua hasil jualan mereka akan diambil sebahagian keuntungannya untuk orang atasnya.
* Dari sudut yang lain, terdapat juga keraguan dalam isu pemberian komisyen di atas usaha dan tugas agen (wakil penjual) atau "brokerage" (tukang kempen). Ini kerana sepatutnya komisyen ke atas "brokerage" tidak harus mensyaratkan tukang kempen itu untuk membeli untuk diri sendiri sebagaimana yang berlaku dalam beberapa jenis MLM. Sesetengahnya pula mensyaratkan ‘broker' atau ‘agen' untuk menjual sendiri sebanyak sekian jumlah bagi memperolehi komisyen jualan broker (ahli) di bawahnya. Dengan sebab-sebab ini, hal ‘broker' atau ‘agen' menjadi syubhah dan tidak lagi benar ianya disifatkan sebagai komisyen wakil atau broker yang diterima Islam.
3) Jika ahli berdaftar menyertai MLM dengan yuran tertentu, tetapi tiada sebarang produk untuk diniagakan, perniagaannya hanyalah dengan mencari orang bawahanya (downline), setiap kali ia mendapat ahli baru, maka diberikan beberapa peratus dari yuran ahi tersebut kepadanya. Semakin banyak anggota baru bermakna semakin banyak jualah bonusnya. Ini adalah bentuk riba kerana memperdagangkan sejumlah wang untuk mendapat sejumlah lebih banyak yang lain di masa hadapan. Ia merupakan satu bentu Riba Nasiah dan Riba Al-Fadl. Hal yang sama juga hukumnya bagi perusahaan MLM yang tidak mempunyai produk bersungguh dan berkualiti, sebaliknya produk miliknya hanyalah berupa ruangan laman web yang tidak berfaedah buat kebanyakkan orang, atau apa jua produk yang hanya dijadikan sebagai alasan pembelian. Malah harga sebenar produknya juga adakalanya jauh dari harga yang dijual kepada ahli (sebagai contoh dijual produk web komputer, sedangkan haragnya jauh lebih tinggi dan si ahli pula tidak mempunyai komputer pun). Pada hakikatnya, si ahli bukannya ingin membeli produk itu, tetapi untuk menyertai rangkaian serta memperolehi wang darinya. Ia juga termasuk dalam yang diharamkan. Hal membeli produk tidak benar dengan niat utama memasuki rangkaian dan mendapat untung dari rangkaian ini telah difatwakan haram oleh Majlis Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah Arab Saudi no 15/192-193.
4) Terdapat juga syarikat MLM yang melakukan manipulasi dalam menjual produknya, atau memaksa pembeli untuk menggunakan produknya atau yang dijual adalah barang haram. Maka MLM tersebut jelas keharamannya. Namun tidak semua MLM begini, cuma sebahagianya sahaja.
5) Terdapat juga unsur mirip "shafqatayn fi shafqah", atau bay'atayn fi bay'ah, (iaitu dua aqad jenis jual beli dalam satu) yang dilarang oleh Baginda SAW dengan pelbagai lafaz antaranya : "
نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صفقتين في صفقة واحدة
Ertinya : "Rasulullah SAW melarang dari membuat dua belian (aqad) dalam satu aqad" ( Riwayat Ahmad, Al-Bazzar ; Al-Haithami : perawi Ahmad adalah thiqah ; 4/84 )
Ini berlaku apabila ada sebahagian syarikat MLM yang membuka pendaftaran ahlinya, setiap ahli perlu membayar sejumlah wang disebut yuran, tidak dapat dipastikan samada yuran tersebut untuk membeli kedudukan di dalam rangkaian ataupun membeli produk. Pada waktu yang sama, dengan termeterainya keahliannya itu, ia akan menjadi wakil pula bagi syarikat untuk merekrut ahli baru, maka tindakan MLM seperti ini, boleh dikatakan termasuk dalam kategori hadis : shafqatayn fi shafqah, atau bay'atayn fi bay'ah. Ini kerana, dalam hal ini, orang tersebut telah dikira melakukan transaksi aqad Mu'awadat (kontrak pertukaran hak kewangan) bila membeli produk atau menjadi ahli dan dalam masa yang sama masuk dalam satu jenis aqad lagi iaitu perwakilan (untuk menjualkan produk itu kelak di samping mencari ahli baru) dengan komisyen tertentu. Maka, praktis seperti ini jelas tergolong sebagaimana hadith di atas.
Ingin saya tekankan juga, hal berkaitan komisyen jualan orang di level keseratus akan diperolehi juga oleh upline di tingkat kedua, padahal mereka tiada sebarang kaitan aqad yang jelas, dan hanya kerana rantaian orang dibawahnya maka ia mendapat untung?. Apa yang diletakkan untuk mendapat untung?.
Sedangkan dalam contoh sebuah syarikat besar, seorang pemegang saham sememang layak dapat untung walaupun goyang kaki kerana ia meletakkan 'modal', sebagaimana yang diketahui , keuntungan boleh didapati dari tiga sebab iaitu 1) Modal 2) Kerja 3) Jaminan 'Dhoman' barangan dari sebarang aib pada barang yang dijual.
Lalu si pemegang modal berhak mendapat untung kerana ia letak modal, si pekerja layak mendapat untung kerana ia bekerja .. jadi apa hak si upline kedua untuk dapat untung jualan si downline ke seratus? Tiada modal, tiada kerja, tiada jaminan atau dhoman barangan yang dijual, kernaa jaminan barangan yang dijual adalah dari syarikat, bukan upline!.
Apa Maksud Sebenar Dua Aqad Dalam Satu ?
Shafqatain di Safqah dan lafaz yang seertinya denganya memang tidak dinafikan mempunyai banyak takrif dan tafsiran menurut kefahaman ulama yang berbeza. Manakala sesiapa yang hanya mendedahkan hanya beberapa kerat dari pandangan tersebut dan kemudian terus memegangnya. Tapi perlu diingat disana terdapat pelabagi tafsiran yang lain pula, dan saya memegang tafsiran yang lain. Maka itu tidak bererti tafsiran pegangan saya adalah salah, dan tafsiran pegangan anda mesti betul. Jika demikian perangainya, maka ini jelas tidak faham konsep ikhtilaf dalam nas.
Sebagai hadiah untuk awam dan pembaca yang mampu faham ini beberapa tafsiran tentang hadith dua aqad dalam satu mengikut beberapa kumpulan ulama silam dan kaitannya dengan MLM:-
1) iaitu contoh berkata penjual kepada pembeli : " Aku jual kepadamu baju ini dengan harga RM 10 tunai , atau RM 20 secara tangguh" , maka si pembeli bersetuju TANPA mengspecifickan plan tangguh atau tunai yang dikehendakinya. Ini bentuk yang ditafsirkan oleh Imam Malik, Abu Hanifah, At-Thawri, Ishak Rahawaih, Imam As-Syafie ( Syarh as-Sunah, Al-Baghawi, 8/142 ; ‘Aridathul Ahwazi, 5/240 ; Al-Mughni, Ibn Quddamah, 6/333; Al-Mudawwanah, 9/191 ).
Tiada khilaf di kalangan ahli ilmu, jenis ini adalah HARAM. Bagaimanapun tafsiran ini tidak berapa berkaitan dengan MLM, kerana biasnaya plan harga akan dipilih dengan tepat.
2) Iaitu contohnya pembeli : "jualkan kepadaku barangan ini dengan harga RM 10 tunai atau dengan sebuah radio pada tarikh akan datang", kemudian kedua-dua bersetuju tanpa memberikan yang mana satu mereka inginkan. Ini adalah tafsiran Imam Malik pula ( ‘Aridathul Ahwazi, 5/240 ) . Ini juga tiada kaitan dengan MLM.
3) Iaitu contohnya berkata seorang lelaki : "Aku jual kebunku ini dengan harga RM 10,000 dengan syarat kamu jualkan rumah kamu pula dengan harga RM 15,000" . Inilah juga tafsiran ulama mazhab Hanafi, Hanbali dan Syafie. ( Al-Mughni , 6/332 ; Al-Um, 3/67 ; ‘Aridatul Ahwazi, 5/239 )
Inilah tafsiran yang saya lihat ada kaitannya dengan kebanyakkan MLM. Iaitu berkata syarikat MLM kepada seorang ahli baru sebagai contoh : "aku jual barang water filter ini dengan harga RM 2000 dengan syarat engkau jadi wakil jualanku dengan komisyen sebanyak 3 % dari harga jualanmu dan aku beri mandate kamu untuk jadi lantik ahli baru dan setiap jualannya kamu akan dapat 1 % dengan syarat kamu ada jualan sendiri sebanyak RM 1000 setiap bulan"
Lihat, dalam contoh saya tu ada berapa jenis aqad muawadah maliah yang bersifat lazim?
a- Jual barang RM 2000 - Aqad jual beli yang bersifat lazim
b- Lantik jadi wakil dengan upah (Wakalah bil Ujr) - aqad wakalah yang bersifat lazim.
c- Beri mandate untuk cari ahli - ini tiada masalah
d- Setiap ahli yang kamu lantik jual kamu layak dapat 1% - Ini ju'alah, juga kelihatan tiada masalah.
e- Kamu hanya layak dapat 1 % ju'alah tadi dengan syarat kamu ada jualan sendiri RM 1000 - Ini ada syubhat sikit syarat seperti ini. Perlu perbincangan dan ijtihad.
Cuma, secara umum kita dapat melihat bergabungnya dua aqad mu'awadat maliah (pertukaran hak milik harta) yang bersifat Lazim. Jika aqad itu ghayru Lazim maka ia diharuskan, tetapi dalam hal ini dua aqad itu adalah "aqad lazim"
4) Iaitu seorang penjual menjual dua barangan berlainan harga iaitu kasut dengan harga RM 100 dan handphone dengan harga RM 700, tetapi ia membuatnya terikat, iaitu jika anda beli handphone, maka pembelian kasut juga menjadi wajib. Inilah takrif yang dipegang oleh Al-Qadhi Ibn Al-Arabi al-Maliki ( Al-Qabas Syarah Al-Muwatta', 2/842 ; Al-Muntaqa , 5/36) .
Ini juga mempunyai sedikit kaitan dengan MLM kerana meletakkan syarat satu aqad lain sebagai syarat untuk sesuatu aqad itu boleh ‘concluded'.
5) Iaitu contohnya : Berkata penjual : " Aku jual handphone ini dengan RM 100 dengan bayaran ansuran dalam 3 bulan, dengan syarat aku akan belinya semual darimu dengan harga RM 80 tunai" . Ini adalah tafsiran Ibn Taymiah dan Ibn Qayyim pula. Ia adalah sama dengan takrif Bai Inah. ( Mukhtasar Al-Fatawa Lib Ibn taymiah, hlm 327 ; Tahzib Mukhtasar Sunan Abi Daud, Ibn Qayyim, 5/100 )
Tafsiran ini agak kurang kaitannya dengan MLM.
Demikianlah beberapa takrifan dan tafsiran ulama tentang hadith dua aqad dalam satu. Sebenarnya ada terdapat 3 lagi tafsiran, Cuma cukuplah sebagai info tambahan kepada pembaca. Oleh kerana beberapa yang dilakukan dalam MLM ada terdapat dalam salah satu tafsirannya, maka saya masukkan point dua aqad di dalam satu sebagai isu yang boleh menjadikan MLM samada haram atau batal atau syubhat.
Keputusan Majma Fiqh Sedunia ?
Kesatuan Fiqh Sedunia (Majma' Fiqh Islami) pernah mengeluarkan fatwa ke atas satu bentuk perniagaan MLM jenama PT Biznas yang disifatkan sebagai haram kerana ia adalah salah satu bentuk perjudian. Selain itu, keputusan itu juga menafikan bahawa komisyen yang digunakan adalah komisyen atau upah ‘brokerage' sebagaimana didakwa. (Rujuk keputusan nombor 3/24, 17 Julai 2003). Selain itu, Syeikh Salim Al-Hilali pernah mengeluarkan fatwa pengharaman dengan katanya : "Banyak pertanyaan berkenaan perniagaan yang diminati ramai. Yang secara umum gambarannya adalah mengikuti kaedah piramid dalam sistem pemasarannya, dengan cara setiap anggota harus mencari ahli-ahli baru dan demikian selanjutnya. Setiap anggota membayar yuran pada syarikat dengan jumlah tertentu dengan angan-angan mendapat bonus, semakin banyak anggota dan memasarkan produknya maka akan semakin banyak bonus yang dijanjikan. Sebenarnya kebanyakan anggota MLM yang menyertai cara ini adalah hasil motivasi bonus yang dijanjikan tersebut dengan harapan agar cepat kaya dalam waktu yang sesingkat mungkin, padahal ia langsung tidak menginginkan produknya. Perniagaan jenis ini adalah perjudian murni, kerana beberapa sebab berikut, iaitu:
Ø Sebenarnya anggota MLM ini tidak mahukan produknya, akan tetapi tujuan utama mereka adalah menyertai rangkaian piramid bagi mendapatkan kekayaan cepat apabila setiap ahli baru membayar yuran.
Ø Harga produk yang dibeli sebenarnya tidak sampai 30% dari wang yang dibayarkan pada syarikat MLM.
Ø Tujuan perusahaan adalah membangun jaringan individu secara berkesinambungan. Yang mana ini akan menguntungkan anggota yang berada pada level atas (Upline) sedangkan level bawah (downline) selalu memberikan nilai point pada yang berada dilevel atas mereka.
Justeru, saya kira, amat tipis untuk mencari MLM yang tidak tergolong dalam item-item salah yang saya sebutkan di atas, malah saya juga suka menyarankan agar pengamal-pengamal jualan amanah saham dan Takaful secara wakil untuk lebih berhati-hati agar tidak terjerumus dalam bab MLM. Bagaimanapun, jika anda masih ingin mendakwa halalnya MLM ini, saya sarankan agar pengamal MLM memastikan asas minima Shariah berikut dapat dipatuhi :-
1. Produk MLM ini mestilah dibeli dengan tujuan yang sebenarnya (seperti produk yang benar-benar bermanfaat dan dibangunkan dengan serius seperti ubat-ubatan berkualiti, unik dan lainnya). Justeru, produk MLM yang kabur kualiti dan kegunaannya tidaklah dibenarkan kerana ia hanyalah bertujuan untuk mengabui dalam undang-undang dan hukum Shariah, ia tiadalah halal di sisi Shariah. Justeru, kekuatan MLM itu ialah kepada produknya yang bermutu dan bukan kepada objektif jangka pendek mengumpul dana (modal).
2. Produknya bukan emas dan perak yang boleh dijual beli secara tangguh. Ini kerana penjualan barangan emas secara tangguh adalah Riba jenis Nasiah.
3. Komisyen yang diberikan kepada ahli untuk setiap penjual dan ahli bawahannya mestilah jelas. Tiada komisyen tanpa usaha, ini bermakna orang atas hanya berhak mendapat komisyen dari ahli bawahan yang dibantunya sahaja.
4. Keuntungan dan komisyen bukan berdasarkan ‘kepala' atau ahli yang ditaja, tetapi adalah berdasarkan nilai produk yang berjaya di jualnya. Ini diperlukan bagi membuktikan ia menumpukan kepada perniagaan penjualan produk dan perkhidmatan dan bukannya permainan wang (money game).
5. Tidak diwajibkan bagi si ahli menjual jumlah tertentu bagi memperolehi komsiyen dari orang bawahannya.
6. Setiap ‘upline' atau orang di sebelah atas mestilah menaruh usaha atas jualan orang bawahannya, seperti mengadakan perjumpaan taklimat, motivasi dan teknik berkempen secara terancang seperti sebuah syarikat yang pelbagai ahlinya. Ia perlu bagi melayakkannya menerima komisyen itu dari sudut Shariah, jika tidak adalah dibimbangi ia akan terjerumus kepada keraguan ‘syubhah'. Ini kerana konsep niaga dalam Islam tidak membenarkan suatu keuntungan dari sesuatu perniagaan yang diperolehi tanpa usaha. Justeru, sedikit usaha perlu dicurahkan bagi menjadi sebab haknya ke atas komisyen. Perlu diingat, kebanyakan ahli di kaki yang 10 ke bawah, mungkin tidak mengenalinya lantaran ia dilantik oleh orang bawahannya yang kesembilan. Jika tidak, apakah haknya untuk mendapat komisyen yang demikian berangkai dan begitu jauh ?.
7. Tidak menggunakan skim piramid iaitu skim siapa masuk dulu akan untung selamanya. Manakala hak mereka yang masuk kemudian akan berkurangan. Justeru, plan pemasaran mestilah memberikan hak kepada semua, malah orang bawahan mampu mendapat keuntungan lebih dari orang atasannya, apabila ia mampu menjual dengan lebih hebat.
8. Mempersembahkan system komisyen dan bonus yang telus dan boleh difahami dan dipantau oleh ahli dengan jelas. Ia bagi mengelakkan segala jenis penipuan.
9. Menstruktur plan pemasaran di anatara ahli dan orang bawahannya secara musyarakah iaitu perkonsgian untung dan rugi berdasarkan modal masing-masing dengan nisbah pembahagian keuntungan yang ditetapkan di peringkat awal lagi.
Mana MLM alternatif??
"Kalau ustaz pandai sangat, kenapa tak tuliskan sahaja macam mana MLM yang menepati Shariah tu, biar orang boleh guna" Demikian tempelak seorang pemuda tanpa kesabaran melalui sebuah web.
Jawapan saya seperti berikut :-
Pertama : Memang ramai 'suruh', 'arah' dan minta saya sebutkan macam mana MLM yang harus serta realistik.
Inilah masalah orang ramai, tidak berfikir mendalam sebelum meminta. Kita kena faham, tak semua yang perniagaan diasakan ikut cara yang menpeati Shariah itu menarik pada pandangan mata orang ramai dan boleh laku untuk dijual di Malaysia, dan tak semua pula plan dan skim atau produk yang sangat boleh dijual dan menarik itu menepati hukum Shariah. Jadinya bagi menghasilkan satu plan hebat yang menepati Shariah dan boleh jual, perbincangan dua pihak antara Ilmuan Shariah & bisnesman amat perlu dalam hal ini.
Mana mungkin sebuah plan pemasaran MLM terbaik dapat dicadangkan hanya dengan mengemukakan permintaan mudah begitu sahaja kepada saya, ini kerana mungkin saya mempunyai penyelesaian dari sudut teori Shariahnya. Teori ini pula sebahagiannya bersifat fleksible dan tidak sebahagian yang lain, kerana itu perbincangan diperlukan dengan pihak pakar pemasaran demi memastikan samada ia 'viable' untuk diperkenalkan atau tidak. Kerana saya bukanlah pakar dalam bab pemasaran.
Kedua : Saya juga bukanlah seorang jutawan yang membolehkan saya memperkenalkan plan bisnes MLM contoh yang hebat dan menepati Shariah. Mudahnya, selagi tiada bisnesman Muslim yang punyai perhatian kuat tentang halal haram dan berkesudian berbincang dengan orang Shariah, selagi tu tidak akan didapati plan dan skim MLM alternatif yang menepati Shariah.
Untuk maklumat, proses inilah yang amat kerap kami (ilmuan Shariah sedunia, saya dan rakan-rakan ustaz di semua institusi kewangan Islam seluruh dunia) ; iaitu kami duduk berjam-jam dengan pakar pemasaran, peguam untuk mencipta produk kewangan Islam yang halal serta dalam masa yang sama aqad-aqadnya juga halal dan boleh diaplikasikan di sisi undang-undang Malaysia. Kesimpulan saya, jika hanya ada satu pihak sahaja yang bersungguh, ia pasti akan menjadi hasrat yang terbengkalai juga.
Akhirnya, saya tahu bahawa hukum MLM ini masih terbuka untuk perbincangan, malah Syeikh Dr Abd Sattar Abu Ghuddah ketika perbincangan dengan beliau mengakui ini isu yang agak baru baginya. Benar, amat sukar ditemui tulisan para ulama Islam dari Timur Tengah berkenaan hal MLM ini, disebabkan MLM belum masuk ke pasaran negara Arab dengan meluas. Justeru, menjadi tanggungjawab para ilmuan Shariah Asia Tenggara untuk membantu masyarakat untuk mengetahui pandangan Shariah tentang MLM ini. Tulisan ringkas saya hanyalah pandangan awal bagi memberi peringatan bahawa dengan sekadar pandangan, kelihatan begitu banyak keraguan boleh muncul dalam perniagaan MLM ini. Tidak perlulah pembaca merasa marah dan benci dengan tulisan ini. Ini sekadar nasihat bagi mereka yang mengambil berat tentang pendapatan serta memikirkan barzakh dan akhirat mereka yang kekal abadi. Wallahu ‘alam.
Kuala Lumpur, Malaysia (14 Zulhijjah 1427 H = 4 Januari 2007)
Tuesday, March 17, 2009
Apa Bezanya Antara Mereka Berdua
Sebulan yang lalu saya telah ke pasaraya Angsana Johor Bahru untuk membeli cermin mata Isteri dan 2 buah buku untuk bacaan saya di rumah. Semasa berhenti di satu persimpangan lampu isyarat saya terlihat satu situasi yang membuatkan saya terfikir pada waktu itu. Malah ia menjadi topik perbincangan saya dan isteri sehinggalah saya sampai di pintu masuk pasaraya tersebut, barulah kami bertukar ke topik perbincangan yang lain. Situasinya begini. semasa saya berhenti di persimpangan lampu isyarat, saya melihat seorang makcik dalam lingkungan 50-an sedang berhenti di tepi kereta saya. Dia menunggang motorsikal jenis skutter. Orangnya agak ranggi dengan pakaian yang agak ketat, tidak bertudung dan berseluar panjang. Selang beberapa saat selepas itu, seorang lagi penunggang motosikal berhenti bersebelahan kereta saya. Dia juga menunggang skutter. Bezanya kali ini penunggangnya lelaki tua dan berkopiah tanpa topi keledar. Seingat saya tidak sampai seminit, si penunggang lelaki itu bergerak memecut motornya sebelum lampu isyarat bertukar hijau. Sementara si penunggang wanita sabar menunggu sehingga lampu isyarat benar-benar bertukar warnanya daripada merah ke hijau.
Walaupun peristiwa ini telah berlaku lebih kurang sebulan yang lalu, namun ia masih bermain-main diminda saya. Persoalannya ialah apa beza antara mereka berdua. Seorang tidak menutup aurat dengan sempurna tetapi sabar. Sementara seorang lagi berpakaian menutup aurat dan berkopiah tetapi tidak sabar. Kedua-duanya berada di tempat yang sama, tetapi tindakannya berbeza. Jika anda berada di saat itu, apakah persepsi anda pada waktu itu? Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, maaf pada golongan yang membawa imej Islam ditengah-tengah masyarakat, ingat bahawa banyak mata sedang memandang kepada anda. Dua orang lelaki sedang merokok, seorang berseluar pendek dan seorang lagi berkopiah. Kedua-duanya Islam, tetapi persepsi terhadap mereka pasti berbeza. Agaknyalah, apa persepsi anda sekiranya anda melihat keadaan tersebut?
Dua orang wanita, seorang tidak bertudung dan seorang lagi bertudung dengan baik sedang ketawa dengan kuat di dalam sebuah restoran makanan segera sehingga mengejutkan orang-orang yang berada di sekelilingnya pada waktu itu.Saya ingin bertanya lagi, apa persepsi anda sekiranya anda turut berada di sana pada waktu itu?
Setiap orang itu akan dinilai dari sudut yang berbeza-beza. Seorang pelajar yang datang dari keluarga bermasalah akan dinilai dari persepsi yang berbeza oleh seorang guru berbanding pelajar yang datang daripada keluarga yang berada dan tidak bermasalah. Begitulah keadaanya apabila seseorang yang sedang membawa imej Islam dalam kehidupannya akan dinilai dengan persepsi yang berbeza berbanding mereka yang hidupnya tidak diurus berlandaskan Islam. Sudah tentu orang yang berimej Islam itu sentiasa dianggap akan membawa nilai-nilai yang baik dalam kehidupan sehariannya. Kesilapan yang kecil yang dilakukan olehnya dianggap besar oleh masyarakat. Malah kesilapan yang dilakukan oleh ahli keluarganya juga akan melibatkan seseorang yang membawa imej Islam itu sendiri. Misalnya seorang anak kepada Si Fulan yang rajin berjemaah di masjid telah dilihat sedang berjalan-jalan di pekan berhampiran tanpa menutup aurat dengan sempurna menyebabkan ayahnya yang dilihat alim itu mendapat nama. Bagaimana kiranya yang berjalan itu adalah anak kepada kaki judi misalnya. Adakah masyarakat akan menyibuk dan mengata si ayah dengan kata-kata yang tidak sedap didengar.
Saya bukan ingin menyakiti hati sesiapa, bukan untuk mengutuk golongan yang membawa imej Islam ini. Apatah lagi berniat untuk memburuk-burukkan mereka. Niat saya satu sahaja, sekadar untuk memesan bukan sahaja buat mereka yang sedang membaca tulisan ini, malah yang lebih utama diri saya sendiri. Sebagai manusia sudah tentulah sifat semulajadinya pasti melakukan kesilapan. Tidak ada manusia yang maksum melainkan Rasul junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang bebas dari sebarang dosa. maka, tidak salah kiranya saya menegur anda wahai pembawa imej Islam di mata masyarakat, apatah lagi anda bergelar ustaz atau ustazah kerana " title" yang sedang anda pikul itu teramatlah berat nilainya. oleh itu berhati-hatilah dalam tindakan anda, tutur kata anda dan sebagainya yang boleh merosakkan imej anda di mata masyarakat. ingat, rosaknya imej anda bermakna rosaklah imej Islam yang dipandang pada diri anda. Apabila rosak imej islam yang mereka pandang pada diri anda, sebenarnya mereka yang tidak bersalah, yang sentiasa istiqomah dalam menjaga imej Islam yang di bawanya juga turut dipandang rosak oleh mereka. Inilah harga yang begitu mahal yang terpaksa dibayar oleh anda sebenarnya. Kerana itulah saya menulis artikel ini. Maafkan saya.
Salam ukhwah
www.teratakmuslim.blogspot.com
Walaupun peristiwa ini telah berlaku lebih kurang sebulan yang lalu, namun ia masih bermain-main diminda saya. Persoalannya ialah apa beza antara mereka berdua. Seorang tidak menutup aurat dengan sempurna tetapi sabar. Sementara seorang lagi berpakaian menutup aurat dan berkopiah tetapi tidak sabar. Kedua-duanya berada di tempat yang sama, tetapi tindakannya berbeza. Jika anda berada di saat itu, apakah persepsi anda pada waktu itu? Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, maaf pada golongan yang membawa imej Islam ditengah-tengah masyarakat, ingat bahawa banyak mata sedang memandang kepada anda. Dua orang lelaki sedang merokok, seorang berseluar pendek dan seorang lagi berkopiah. Kedua-duanya Islam, tetapi persepsi terhadap mereka pasti berbeza. Agaknyalah, apa persepsi anda sekiranya anda melihat keadaan tersebut?
Dua orang wanita, seorang tidak bertudung dan seorang lagi bertudung dengan baik sedang ketawa dengan kuat di dalam sebuah restoran makanan segera sehingga mengejutkan orang-orang yang berada di sekelilingnya pada waktu itu.Saya ingin bertanya lagi, apa persepsi anda sekiranya anda turut berada di sana pada waktu itu?
Setiap orang itu akan dinilai dari sudut yang berbeza-beza. Seorang pelajar yang datang dari keluarga bermasalah akan dinilai dari persepsi yang berbeza oleh seorang guru berbanding pelajar yang datang daripada keluarga yang berada dan tidak bermasalah. Begitulah keadaanya apabila seseorang yang sedang membawa imej Islam dalam kehidupannya akan dinilai dengan persepsi yang berbeza berbanding mereka yang hidupnya tidak diurus berlandaskan Islam. Sudah tentu orang yang berimej Islam itu sentiasa dianggap akan membawa nilai-nilai yang baik dalam kehidupan sehariannya. Kesilapan yang kecil yang dilakukan olehnya dianggap besar oleh masyarakat. Malah kesilapan yang dilakukan oleh ahli keluarganya juga akan melibatkan seseorang yang membawa imej Islam itu sendiri. Misalnya seorang anak kepada Si Fulan yang rajin berjemaah di masjid telah dilihat sedang berjalan-jalan di pekan berhampiran tanpa menutup aurat dengan sempurna menyebabkan ayahnya yang dilihat alim itu mendapat nama. Bagaimana kiranya yang berjalan itu adalah anak kepada kaki judi misalnya. Adakah masyarakat akan menyibuk dan mengata si ayah dengan kata-kata yang tidak sedap didengar.
Saya bukan ingin menyakiti hati sesiapa, bukan untuk mengutuk golongan yang membawa imej Islam ini. Apatah lagi berniat untuk memburuk-burukkan mereka. Niat saya satu sahaja, sekadar untuk memesan bukan sahaja buat mereka yang sedang membaca tulisan ini, malah yang lebih utama diri saya sendiri. Sebagai manusia sudah tentulah sifat semulajadinya pasti melakukan kesilapan. Tidak ada manusia yang maksum melainkan Rasul junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang bebas dari sebarang dosa. maka, tidak salah kiranya saya menegur anda wahai pembawa imej Islam di mata masyarakat, apatah lagi anda bergelar ustaz atau ustazah kerana " title" yang sedang anda pikul itu teramatlah berat nilainya. oleh itu berhati-hatilah dalam tindakan anda, tutur kata anda dan sebagainya yang boleh merosakkan imej anda di mata masyarakat. ingat, rosaknya imej anda bermakna rosaklah imej Islam yang dipandang pada diri anda. Apabila rosak imej islam yang mereka pandang pada diri anda, sebenarnya mereka yang tidak bersalah, yang sentiasa istiqomah dalam menjaga imej Islam yang di bawanya juga turut dipandang rosak oleh mereka. Inilah harga yang begitu mahal yang terpaksa dibayar oleh anda sebenarnya. Kerana itulah saya menulis artikel ini. Maafkan saya.
Salam ukhwah
www.teratakmuslim.blogspot.com
Thursday, February 26, 2009
Seni Berbicara
" Dilarang masuk tanpa urusan " atau " Silakan masuk jika ada urusan " merupakan dua buah ayat yang berbeza gaya bahasanya, tetapi membawa maksud yang sama. Sama juga dengan dua ayat yang berikut ini: " Kawasan merokok " atau " Selamat datang ke Zon bunuh diri " yang mana turut menggunakan gaya bahasa yang berbeza tetapi mesej yang hendak disampaikan adalah sama.
Selama hampir enam tahun bekerja, saya dapat perhatikan seni berbicara itu amatlah penting sekali sebagai salah satu alat dalam pengurusan sesebuah organisasi. Apabila seorang pemimpin memberi arahan seperti berikut : " Awak mesti menyiapkan tugasan ini segera dan letakkan di atas meja saya seawal jam 9 pagi esok. Jika awak gagal menyiapkannya, tindakan tegas akan dikenakan terhadap awak." Apa pendapat anda apabila membaca contoh di atas. Marah, sakit hati? Bagaimana jika pemimpin tersebut mengatakan begini : " Boleh tak awak tolong siapkan tugasan ini untuk saya. Saya perlukannya seawal pagi esok. saya harap sangat dengan bantuan awak kali ini. Kalau ada masalah, cepat-cepat hubungi saya. Saya akan bantu setakat mana yang termampu." Saya percaya ia akan memberikan persepsi yang berbeza bukan. Tujuan arahannya sama sahaja, tetapi kaedah penyampaiannya sahaja yang berbeza. Kerana itulah ia memberikan kesan yang juga berbeza kepada hati pekerja.
Seni berbicara ini mestilah dipelajari oleh semua orang, terutama sekali yang berada di bahagian pengurusan yang paling kerap memberi arahan kepada pihak bawahan. Kegagalan menggunakan gaya bahasa yang sesuai akan merumitkan urusan dalam sesebuah organisasi. Seorang lelaki yang sedang marah kerana telah 10 kali membuat panggilan ke sebuah jabatan kerajaan tiba-tiba bercakap dengan lembut setelah mendengar suara lembut menjawab panggilannya setelah mendail nombor yang sama buat kali yang kesebelas. Hanya dengan menggunakan suara yang lembut dan sopan, seorang lelaki yang sedang membara hatinya tiba-tiba menjadi lembut hatinya. Begitulah hebatnya seni berbicara ini kerana ia memberi kesan yang cepat ke dalam hati pendengarnya. Lihat saja orang yang sedang mendeklamasikan sajak, dengan bahasa yang berbunga-bunga dan intonasi yang menarik menyebabkan para audien terpana mendengarnya. Semasa hari jumaat, ketika khatib membaca khutbah, ramai yang tertidur kerana gaya bahasa yang digunakan mendatar dan tidak menarik didengar. Sekitar tahun 2001, semasa bersolat jumaat di sebuah masjid di Selangor, kelihatan para jemaah kyusuk mendengar khutbah yang sedang disampaikan oleh seorang khatib muda yang telah bercakap dengan lantang, cantik susunan bahasanya dan diselangi dengan contoh-contoh yang sesuai dengan tajuk khutbahnya. Di sebuah kampung di Daerah Segamat, yang mana khutbahnya di sampaikan oleh seorang imam yang agak berumur telah menyebabkan jemaah menangis semasa mendengar kata-kata yang keluar dari mulut khatib pada waktu itu. Tajuknya biasa-biasa sahaja yang sering diucapkan oleh kebanyakkan pembaca khutbah iaitu berkaitan ketaatan kepada kedua ibu bapa. Tetapi oleh kerana bahasa yang digunakan itu sangat menarik, tersusun dan sedap didengar menyebabkan para jemaah tidak mengantuk, malah ada yang menangis apabila mendengar khutbah tersebut.
Apabila seseorang itu mempunyai seni dalam berbicara, dia sebenarnya sedang menarik orang lain untuk mendengar lagi dan lagi isi percakapannya samada dalam situasi formal atau tidak formal. Seni berbicara ini perlulah dipelajari dan diamalkan mengikut kesesuaiannya. Sekadar belajar, tetapi tiada amal maka ia ibarat pokok buah-buahan yang hidup berpuluh tahun tanpa buahnya. Sama juga seperti mereka-mereka yang mempelajari Al-Quran tetapi tidak beramal dengannya. Al-Quran itu sekadar dilagukan, tetapi isinya dibuang begitu sahaja.
Semasa belajar di Universiti dahulu saya sering bertemu dengan pasangan kekasih yang mana pasangan lelakinya tidak memiliki wajah yang menarik berbanding si wanita yang berwajah cantik dan menarik. Saya bukanlah hendak menghina sesiapa, tetapi ianya ada kaitan dengan isu yang sedang diperkatakan ini. Saya hairan, mengapa keadaan sedemikian boleh berlaku. Apakah kehebatan mereka. Bila saya bertanyakan kepada rakan-rakan, jawapan yang sering diberikan ialah " ayat power ". Adakah " ayat power " itu ada kaitannya dengan seni berbicara. Kenapa si wanita tidak tertarik dengan lelaki yang lebih tampan, sedangkan mereka berpeluang untuk memilikinya kerana mereka mempunyai wajah yang menarik. Sudah tentu ramai yang bersedia untuk menjadi pasangan wanita itu. Namun, pilihannya sangat mengejutkan dan mengundang kontroversi. Mulut mereka yang berada di sekelilingnya tidak mampu ditutup lagi, tetapi hubungan mereka terus bertaut tanpa mempedulikan persepsi buruk masyarakat di sekeliling mereka. Kini, saya telah mengerti mengapa wanita itu tertarik dengan lelaki tersebut, tidak lain tidak bukan kerana lelaki tersebut telah menggunakan kemahiran berbicara sehinggakan wanita itu cair hatinya dan seterusnya memandang yang menarik sahaja pada diri lelaki tersebut walaupun masyarakat memandang sebaliknya.
Sekiranya saya ingin terus menyambung tulisan kerdil ini, pasti banyak lagi isu-isu yang boleh diperbincangkan. Namun masa tidak mengizinkan. Izinkan saya mengakhiri tulisan ini dengan meninggalkan sedikit harapan kepada semua pembaca agar mempelajari dan memahami seni berbicara dengan lebih mendalam. Percayalah, jika anda seorang pemimpin, anda akan disenangi oleh orang bawahan anda. sekiranya anda seorang guru, percayalah para pelajar akan menghormati dan mengasihi anda seadanya. Apapun, walau siapapun anda, marilah bersama-sama kita mempelajarinya dan seterusnya diamalkan dalam kehidupan seharian kita.
Selamat berubah kepada kehidupan baru
salam ukhwah
Selama hampir enam tahun bekerja, saya dapat perhatikan seni berbicara itu amatlah penting sekali sebagai salah satu alat dalam pengurusan sesebuah organisasi. Apabila seorang pemimpin memberi arahan seperti berikut : " Awak mesti menyiapkan tugasan ini segera dan letakkan di atas meja saya seawal jam 9 pagi esok. Jika awak gagal menyiapkannya, tindakan tegas akan dikenakan terhadap awak." Apa pendapat anda apabila membaca contoh di atas. Marah, sakit hati? Bagaimana jika pemimpin tersebut mengatakan begini : " Boleh tak awak tolong siapkan tugasan ini untuk saya. Saya perlukannya seawal pagi esok. saya harap sangat dengan bantuan awak kali ini. Kalau ada masalah, cepat-cepat hubungi saya. Saya akan bantu setakat mana yang termampu." Saya percaya ia akan memberikan persepsi yang berbeza bukan. Tujuan arahannya sama sahaja, tetapi kaedah penyampaiannya sahaja yang berbeza. Kerana itulah ia memberikan kesan yang juga berbeza kepada hati pekerja.
Seni berbicara ini mestilah dipelajari oleh semua orang, terutama sekali yang berada di bahagian pengurusan yang paling kerap memberi arahan kepada pihak bawahan. Kegagalan menggunakan gaya bahasa yang sesuai akan merumitkan urusan dalam sesebuah organisasi. Seorang lelaki yang sedang marah kerana telah 10 kali membuat panggilan ke sebuah jabatan kerajaan tiba-tiba bercakap dengan lembut setelah mendengar suara lembut menjawab panggilannya setelah mendail nombor yang sama buat kali yang kesebelas. Hanya dengan menggunakan suara yang lembut dan sopan, seorang lelaki yang sedang membara hatinya tiba-tiba menjadi lembut hatinya. Begitulah hebatnya seni berbicara ini kerana ia memberi kesan yang cepat ke dalam hati pendengarnya. Lihat saja orang yang sedang mendeklamasikan sajak, dengan bahasa yang berbunga-bunga dan intonasi yang menarik menyebabkan para audien terpana mendengarnya. Semasa hari jumaat, ketika khatib membaca khutbah, ramai yang tertidur kerana gaya bahasa yang digunakan mendatar dan tidak menarik didengar. Sekitar tahun 2001, semasa bersolat jumaat di sebuah masjid di Selangor, kelihatan para jemaah kyusuk mendengar khutbah yang sedang disampaikan oleh seorang khatib muda yang telah bercakap dengan lantang, cantik susunan bahasanya dan diselangi dengan contoh-contoh yang sesuai dengan tajuk khutbahnya. Di sebuah kampung di Daerah Segamat, yang mana khutbahnya di sampaikan oleh seorang imam yang agak berumur telah menyebabkan jemaah menangis semasa mendengar kata-kata yang keluar dari mulut khatib pada waktu itu. Tajuknya biasa-biasa sahaja yang sering diucapkan oleh kebanyakkan pembaca khutbah iaitu berkaitan ketaatan kepada kedua ibu bapa. Tetapi oleh kerana bahasa yang digunakan itu sangat menarik, tersusun dan sedap didengar menyebabkan para jemaah tidak mengantuk, malah ada yang menangis apabila mendengar khutbah tersebut.
Apabila seseorang itu mempunyai seni dalam berbicara, dia sebenarnya sedang menarik orang lain untuk mendengar lagi dan lagi isi percakapannya samada dalam situasi formal atau tidak formal. Seni berbicara ini perlulah dipelajari dan diamalkan mengikut kesesuaiannya. Sekadar belajar, tetapi tiada amal maka ia ibarat pokok buah-buahan yang hidup berpuluh tahun tanpa buahnya. Sama juga seperti mereka-mereka yang mempelajari Al-Quran tetapi tidak beramal dengannya. Al-Quran itu sekadar dilagukan, tetapi isinya dibuang begitu sahaja.
Semasa belajar di Universiti dahulu saya sering bertemu dengan pasangan kekasih yang mana pasangan lelakinya tidak memiliki wajah yang menarik berbanding si wanita yang berwajah cantik dan menarik. Saya bukanlah hendak menghina sesiapa, tetapi ianya ada kaitan dengan isu yang sedang diperkatakan ini. Saya hairan, mengapa keadaan sedemikian boleh berlaku. Apakah kehebatan mereka. Bila saya bertanyakan kepada rakan-rakan, jawapan yang sering diberikan ialah " ayat power ". Adakah " ayat power " itu ada kaitannya dengan seni berbicara. Kenapa si wanita tidak tertarik dengan lelaki yang lebih tampan, sedangkan mereka berpeluang untuk memilikinya kerana mereka mempunyai wajah yang menarik. Sudah tentu ramai yang bersedia untuk menjadi pasangan wanita itu. Namun, pilihannya sangat mengejutkan dan mengundang kontroversi. Mulut mereka yang berada di sekelilingnya tidak mampu ditutup lagi, tetapi hubungan mereka terus bertaut tanpa mempedulikan persepsi buruk masyarakat di sekeliling mereka. Kini, saya telah mengerti mengapa wanita itu tertarik dengan lelaki tersebut, tidak lain tidak bukan kerana lelaki tersebut telah menggunakan kemahiran berbicara sehinggakan wanita itu cair hatinya dan seterusnya memandang yang menarik sahaja pada diri lelaki tersebut walaupun masyarakat memandang sebaliknya.
Sekiranya saya ingin terus menyambung tulisan kerdil ini, pasti banyak lagi isu-isu yang boleh diperbincangkan. Namun masa tidak mengizinkan. Izinkan saya mengakhiri tulisan ini dengan meninggalkan sedikit harapan kepada semua pembaca agar mempelajari dan memahami seni berbicara dengan lebih mendalam. Percayalah, jika anda seorang pemimpin, anda akan disenangi oleh orang bawahan anda. sekiranya anda seorang guru, percayalah para pelajar akan menghormati dan mengasihi anda seadanya. Apapun, walau siapapun anda, marilah bersama-sama kita mempelajarinya dan seterusnya diamalkan dalam kehidupan seharian kita.
Selamat berubah kepada kehidupan baru
salam ukhwah
Thursday, February 12, 2009
Dengarlah bicara hati abah ini wahai anakku Haris Husaini
Anakku Haris, biarpun kamu baru berumur setahun 7 bulan, dan tidak mengerti banyak perkara, izinkanlah abah menasihatimu dengan sedikit nasihat yang cukup berguna sebelum kamu melonjak ke usia remaja kerana di kala itu cabarannya terlalu besar dan ramai yang telah gagal dan dihanyutkan arus yang deras hingga sukar untuk diselamatkan lagi. itulah yang abah sangat-sangat takutkan sayang. Kamu masih kecil haris sayang, sememangnya abah sangat-sangat memahaminya kamu masih kecil dan tidak sepatutnya nasihat ini diberikan kepadamu sayang. Tidak mengapa harisku sayang, insya Allah bila kamu besar nanti akan abah tunjukkan tulisan ini, dan kamu bacalah dan fahamilah kerana ketika itu kamu sudah mampu berfikir secara rasional dan matang. Abah tidak boleh menangguh tulisan ini kerana ditakuti apa yang hendak diperkatakan sekarang tidak lagi mampu untuk diperkatakan di masa hadapan. mungkin di waktu itu abah telah terlupa sayang.
Anakku sayang, nasihatnya pendek sahaja dan nasihat inilah yang Saidina Ali Karamullahhiwajhah pernah ungkapkan satu ketika dahulu. Walaupun wasiat ini telah lama ditinggalkan Oleh Saidina Ali kepada kita, namun apa yang disebut itu adalah benar. Ianya memang berlaku dalam realiti hidup kita yang sebenar sayang.
Inilah nasihatnya, dan bacalah dengan tenang, serta hayatilah setiap bait-bait perkataan yang keluar dari mulut Saidina Ali itu, mudah-mudahan ia dapat memberi manfaat dan iktibar buat hidup haris bila besar nanti.
Kata Saidina Ali Karamullahhiwajhah :
" Jahuilah persahabatan dengan pengkhianat kerana dia akan menjualmu dengan harga yang lebih murah ".
Haris mengertikah apa yang dimaksudkan dengan pengkhianat itu. Pengkhianat itu bermaksud orang yang tidak jujur dan amanah dalam persahabatannya. Mereka sanggup melakukan apa sahaja untuk kepentingan dirinya walaupun terpaksa menganiaya dirimu sayang. Apa yang penting, matlamatnya tercapai. Mereka bersahabat denganmu bukan kerana Allah, malah mereka akan menarikmu ke neraka Allah. Maka pesanku buatmu anakku sayang, jahuilah mereka. Ini bukan sekadar nasihat dari Abah wahai anakku, tetapi ini adalah perintah Allah. Ya, peringatan dari Tuhan kita untuk kebaikan diri kita anakku. Cubalah kamu perhatikan firman Allah ini :
" Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka ". ( Hud: 113 )
" Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan perbicaraan yang lain ". ( Al- An'am : 68 )
" Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melampaui batas, yang membuat kerosakan di muka bumi dan tidak mengadakan kebaikan ". ( Asy-Syu'ara' : 151-152 )
Wahai anakku, abah kira cukuplah tiga dalil dari al-Quran itu untuk menguatkan hujjah abah. Jelas bukan larangan Allah kepada kita agar menjauhi sahabat,teman dan mereka yang tidak mengajak kita kepada kebaikkan dan menarik kita ke jalan yang menyesatkan. Mereka akan menjual kamu anakku. Ya, menjual kamu pada harga yang terlalu murah sehinggakan nilaian kamu adalah bakaran api neraka. Syurga itu mahal harganya wahai anakk dan masakan barang yang murah sesuai untuk tempat yang mahal. Kamu tentu belum pernah masuk ke hotel-hotel yang bertaraf 5 bintang bukan? Jika kamu berpeluang ke sana suatu hari nanti, perhatikanlah perhiasan-perhiasan yang digunakan di sana, kamu tidak akan ketemu dengan barangan yang rendah nilainya. Maka untuk bermalam di sana, pasti tinggi harganya. Begitulah halnya dengan syurga wahai anakku, tentunya nilaian diri kamu waktu itu jika kamu mengikuti jejak langkah pengkhianat, tidak mampu untuk membayar harga sebuah syurga. MasyaAllah, takutnya abah wahai anakku sayang jika itu terjadi kepada dirimu. Semoga Allah menjahuinya daripada kamu.
Akhir kalam wahai anakku, sekali lagi abah memesan kepadamu, pilihlah kawan yang betul, perhatikan akhlaknya, ibadahnya dan akidahnya. Janganlah memandang kepada rupa dan harta bila memilih kawan, tetapi nilailah hubungannya dengan Pencipta kita yakni Allah. Mengapa? kerana pengkhianat itu begitu murah nilai harga dirinya di sisi Allah. kerana itulah Nerakalah yang paling layak buatnya.
Firman Allah :
" Dan sesungguhnya orang-rang yang derhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan ". ( Al-intifar : 14-15 ).
Takutlah anakku sayang. Takutlah dengan peringatan Allah ini. Bimbang abah kamu akan terjebak dengan akhlak pengkhianat yang buruk itu jika kamu bersahabat dengannya. Takut sangat abah kalau-kalau Allah akan murka Padamu sayang.
Wahai anakku, sebelum abah menamatkan cetusan hati abah ini buat tatapanmu di saat kamu besar nanti, mari abah coretkan satu nasihat yang pernah diungkap oleh Al-Qomah al-'Attar sebelum beliau meninggal dunia. Begini bunyinya :
" Apabila persahabatan ditawarkan kepadamu, maka bersahabatlah dengan orang yang apabila engkau membantunya, dia memeliharamu, dan jika engkau bersahabat dengannya, dia mengharumkan namamu ".
" Kemudian bersahabatlah dengan orang yang apabila engkau meminta sesuatu daripadanya, dia memberimu, jika engkau diam dia terlebih dahulu menegurmu, dan jika musibah menimpamu, dia menolongmu ".
" Seterusnya bersahabatlah dengan orang yang apabila engkau mengatakan sesuatu, dia membenarkanmu, jika engkau menyelesaikan sesuatu masalah dia menolongmu, dan jika terjadi pertelingkahan di antara kamu berdua, dia mengalah ".
Abah rasa, cukuplah sekadar ini dahulu buat kali ini harisku sayang. Jika ada lagi nasihat yang abah rasa berguna buatmu di masa hadapan, insya Allah akan abah coretkan lagi di sini. Doa Abah kamu akan menjadi anak yang baik, soleh dan mentaai perintah Allah dan rasulnya serta menjaga maruah diri Abah dan Ibu. Ingat, kamu adalah buah hati Abah dan Ibu. Salam sayang buat kamu wahai anakku..
Wallahua'lam
Anakku sayang, nasihatnya pendek sahaja dan nasihat inilah yang Saidina Ali Karamullahhiwajhah pernah ungkapkan satu ketika dahulu. Walaupun wasiat ini telah lama ditinggalkan Oleh Saidina Ali kepada kita, namun apa yang disebut itu adalah benar. Ianya memang berlaku dalam realiti hidup kita yang sebenar sayang.
Inilah nasihatnya, dan bacalah dengan tenang, serta hayatilah setiap bait-bait perkataan yang keluar dari mulut Saidina Ali itu, mudah-mudahan ia dapat memberi manfaat dan iktibar buat hidup haris bila besar nanti.
Kata Saidina Ali Karamullahhiwajhah :
" Jahuilah persahabatan dengan pengkhianat kerana dia akan menjualmu dengan harga yang lebih murah ".
Haris mengertikah apa yang dimaksudkan dengan pengkhianat itu. Pengkhianat itu bermaksud orang yang tidak jujur dan amanah dalam persahabatannya. Mereka sanggup melakukan apa sahaja untuk kepentingan dirinya walaupun terpaksa menganiaya dirimu sayang. Apa yang penting, matlamatnya tercapai. Mereka bersahabat denganmu bukan kerana Allah, malah mereka akan menarikmu ke neraka Allah. Maka pesanku buatmu anakku sayang, jahuilah mereka. Ini bukan sekadar nasihat dari Abah wahai anakku, tetapi ini adalah perintah Allah. Ya, peringatan dari Tuhan kita untuk kebaikan diri kita anakku. Cubalah kamu perhatikan firman Allah ini :
" Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka ". ( Hud: 113 )
" Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan perbicaraan yang lain ". ( Al- An'am : 68 )
" Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melampaui batas, yang membuat kerosakan di muka bumi dan tidak mengadakan kebaikan ". ( Asy-Syu'ara' : 151-152 )
Wahai anakku, abah kira cukuplah tiga dalil dari al-Quran itu untuk menguatkan hujjah abah. Jelas bukan larangan Allah kepada kita agar menjauhi sahabat,teman dan mereka yang tidak mengajak kita kepada kebaikkan dan menarik kita ke jalan yang menyesatkan. Mereka akan menjual kamu anakku. Ya, menjual kamu pada harga yang terlalu murah sehinggakan nilaian kamu adalah bakaran api neraka. Syurga itu mahal harganya wahai anakk dan masakan barang yang murah sesuai untuk tempat yang mahal. Kamu tentu belum pernah masuk ke hotel-hotel yang bertaraf 5 bintang bukan? Jika kamu berpeluang ke sana suatu hari nanti, perhatikanlah perhiasan-perhiasan yang digunakan di sana, kamu tidak akan ketemu dengan barangan yang rendah nilainya. Maka untuk bermalam di sana, pasti tinggi harganya. Begitulah halnya dengan syurga wahai anakku, tentunya nilaian diri kamu waktu itu jika kamu mengikuti jejak langkah pengkhianat, tidak mampu untuk membayar harga sebuah syurga. MasyaAllah, takutnya abah wahai anakku sayang jika itu terjadi kepada dirimu. Semoga Allah menjahuinya daripada kamu.
Akhir kalam wahai anakku, sekali lagi abah memesan kepadamu, pilihlah kawan yang betul, perhatikan akhlaknya, ibadahnya dan akidahnya. Janganlah memandang kepada rupa dan harta bila memilih kawan, tetapi nilailah hubungannya dengan Pencipta kita yakni Allah. Mengapa? kerana pengkhianat itu begitu murah nilai harga dirinya di sisi Allah. kerana itulah Nerakalah yang paling layak buatnya.
Firman Allah :
" Dan sesungguhnya orang-rang yang derhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan ". ( Al-intifar : 14-15 ).
Takutlah anakku sayang. Takutlah dengan peringatan Allah ini. Bimbang abah kamu akan terjebak dengan akhlak pengkhianat yang buruk itu jika kamu bersahabat dengannya. Takut sangat abah kalau-kalau Allah akan murka Padamu sayang.
Wahai anakku, sebelum abah menamatkan cetusan hati abah ini buat tatapanmu di saat kamu besar nanti, mari abah coretkan satu nasihat yang pernah diungkap oleh Al-Qomah al-'Attar sebelum beliau meninggal dunia. Begini bunyinya :
" Apabila persahabatan ditawarkan kepadamu, maka bersahabatlah dengan orang yang apabila engkau membantunya, dia memeliharamu, dan jika engkau bersahabat dengannya, dia mengharumkan namamu ".
" Kemudian bersahabatlah dengan orang yang apabila engkau meminta sesuatu daripadanya, dia memberimu, jika engkau diam dia terlebih dahulu menegurmu, dan jika musibah menimpamu, dia menolongmu ".
" Seterusnya bersahabatlah dengan orang yang apabila engkau mengatakan sesuatu, dia membenarkanmu, jika engkau menyelesaikan sesuatu masalah dia menolongmu, dan jika terjadi pertelingkahan di antara kamu berdua, dia mengalah ".
Abah rasa, cukuplah sekadar ini dahulu buat kali ini harisku sayang. Jika ada lagi nasihat yang abah rasa berguna buatmu di masa hadapan, insya Allah akan abah coretkan lagi di sini. Doa Abah kamu akan menjadi anak yang baik, soleh dan mentaai perintah Allah dan rasulnya serta menjaga maruah diri Abah dan Ibu. Ingat, kamu adalah buah hati Abah dan Ibu. Salam sayang buat kamu wahai anakku..
Wallahua'lam
Saturday, February 7, 2009
Kenapa Bangsa Yahudi Bijak?
Setelah berada 3 tahun di Israel kerana menjalani housemanship di beberapa hospital di sana, ada beberapa perkara yang menarik dapat saya perhatikan untuk dijadikan tesis ini, iaitu mengapa Yahudi Bijak?? Memang tidak dapat dinafikan ramai cendikiawan berbangsa Yahudi, dari segala bidang, kejuruteraan, muzik, saintis dan yang paling hebat ialah bidang perniagaan, di mana ia memang paling tersohor. Hampir 70% perniagaan di dunia dikuasai oleh kaum Yahudi, dari kosmetik, pakaian, pemakanan, senjata, perhotelan, perfileman diHollywood dan sebagainya.
Ketika tahun kedua, akhir bulan December 1980 dan sedang saya menghitung hari untuk pulang ke California saya terfikir apakah sebabnya kaum Yahudi begitu pintar? Kenapa Tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau oleh manusia sendiri? Adakah bijak boleh dijana? Seperti kilang pengeluaran?
Maka saya pun tergerak membuat tesis untuk Phd saya, disamping kebaikan untuk umat sejagat dan dapat hidup secara harmoni. Untuk pengetahuan anda tesis yang saya lakukan ini mengambil masa hampir lapan tahun, ini kerana untuk mengumpulkan data-data yang setepat mungkin. Antara data-data yang saya kumpulkan ialah pemakanan, adat resam, agama, persiapan awal untuk melahirkan zuriat dan sebagainya dan data-data tadi saya cuba bandingkan dengan bangsa dan kaum kaum lain.
Marilah kita mulakan dengan persiapan awal melahirkan zuriat. Di Israel, setelah mengetahui yang sang ibu sedang mengandung, pertama kali saya perhatikan ialah, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano dan si ibu dan bapa akan membeli buku metamatik dan menyelesaikan masalah metamatik bersama suami, saya sungguh hairan kerana teman saya yang mengandung sering membawa buku metamatik dan bertanya kepada saya beberapa soalan yang beliau tak dapat menyelesaikanya. Oleh kerana saya memang minat tentang metamatik, tentu saja dengan senang saya bantu beliau. Saya bertanya kepada beliau, adakah ini untuk anak kamu? Beliau menjawab, Ya, ini untuk anak saya yang masih didalam kandungan. Saya sedang melatih otak anak saya. Semoga dia menjadi genius apabila dewasa kelak. Perkara ini membuat saya tertarik untuk mengikut perkembangan beliau seterusnya. Berbalik kepada metamatik tadi, tanpa merasa jemu beliau membuat latihan metamatik sehingga beliau melahirkan anak.
Seperkara lagi yang saya perhatikan ialah pemakanan beliau. Sejak awal mengandung beliau gemar sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu dan untuk tengah hari makan utama beliau ialah roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang digaul dengan badam dan berbagai jenis kekacang. Menurut beliau daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merosakkan pengembangan dan penumbuhan otak anak di dalam kandungan. Menurut beliau ini adalah cara orang orang yahudi ketika mengandung dan ianya menjadi semacam kewajipan untuk ibu-ibu yang sedang mengandung mengambil pil minyak ikan.
Ketika saya diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi, perkara pertama yang saya perhatikan ialah menu mereka. Setiap undangan yang saya perhatikan ialah mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet) dan biasanya daging tidak akan ada bersama di meja jika ada ikan. Menurut mereka, campuran daging dan ikan tak elok dimakan bersama. Salad dan kacang adalah suatu kemestian, terutama badam.
Seperkara yang pelik ialah mereka akan memakan buah buahan dahulu sebelum memakan hidangan utama. Jangan terperanjat jika anda diundang ke rumah Yahudi anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan karbohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk dan lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.
Di Israel, merokok adalah taboo, apabila anda diundang makan dirumah Yahudi, jangan sekali-kali merokok dan tanpa malu mereka akan menyuruh anda keluar dari rumah mereka supayaa merokok di luar rumah mereka. Menurut saintis di Universiti Israel , siasatan menunjukkan nikotin dapat merosakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada genes, ini bermakna keturunan perokok bakal membawa generasi yg cacat otak ( bodoh atau lembab). Suatu penemuan yg dahsyat ditemui oleh saintis yg mendalami bidang genes dan DNA. Para perokok harap ambil perhatian. (Ironi nya, pemilik pengeluar rokok terbesar adalah siapa? Tekalah sendiri..!)
Perhatian saya selanjutnya ialah melawati tadika mereka, Pemakanan anak anak tadi cukup dikawal, makanan awal ialah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever). Di dalam pengamatan saya, kanak-kanak Yahudi sungguh bijak dan rata-rata mereka memahami 3 bahasa iaitu Hebrew, Arab dan Inggeris dan sejak dari awal lagi mereka telah dilatih bermain piano dan violin. Ini adalah suatu kewajipan bagi mereka. Menurut mereka bermain muzik dan memahami nota notanya dapat meningkatkan lagi IQ kanak kanak dan sudah tentu bakal menjadikan budak itu bijak. Ini menurut saintis Yahudi, gegaran muzik dapat stimulate (semacam senaman untuk otak) maka itu terdapat ramai sekali genius muzik terdiri dari kaum Yahudi.
Seterusnya ke darjah 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar metamatik berkonsepkan perniagaan dan pelajaran sains amatlah diberi keutamaan. Di dalam perhatian peribadi saya, perbandingan dengan anak anak di California, ianya jauh berbeza tentang IQ dan boleh saya katakan 6 tahun kebelakang!!!. Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap dan difahami oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi sukan juga menjadi kewajipan bagi mereka dan sukan yg diberi keutamaan ialah memanah, menembak dan berlari. Menurut teman saya ini, memanah dan menembak dapat melatih otak memfokus sesuatu perkara disamping mempermudahkan persiapan untuk perhidmatan negara.
Selanjutnya pemerhatian saya menuju ke sekolah tinggi (menengah) di sini murid murid ditekan dengan pelajaran mata sains dan mereka digalakkan mencipta produk. Segala projek mereka walaupun kadangkala kelihatannya lucu dan mengarut, tetap diteliti dengan serius apatah lagi ianya berupa senjata, perubatan dan kejuruteraan. Idea itu akan dibawa ke institut tinggi di Politeknik dan Universiti.
Satu lagi yg diberi keutamaan ialah fakulti perniagaan. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka tentang perniagaan. Di akhir tahun di universiti, para penuntut di bidang niaga dikehendaki melakukan projek dan mempraktikkanya dan anda hanya akan lulus jika kumpulan anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US1juta! Anda terperanjat? Itulah kenyataan, dengan rangkaian seluruh dunia dan ditaja sepenuhnya oleh syarikat milik Yahudi. Maka tidak hairanlah mereka dapat menguasai perniagaan di dunia. Siapakah yg mencipta design Levis yang terkini? Ianya dicipta di Universiti Israel oleh fakulti bisnes dan fesyen.
Pernahkah anda melihat cara orang Yahudi melakukan ibadah mereka? Salah satu caranya ialah dengan menggoyangkan kepala mereka, menurut mereka ini dapat mengaktifkan otak mereka dan menambahkan oksijan dikepala, banyak ugama lain di Timur Tengah, seperti Islam juga ada menyuruh umatnya menunduk atau menggoyangkan kepala, ini guna dapat mensimulasikan otak kita supaya bertambah aktif (bezikir). Lihat orang orang Jepun, mereka sering menunduk nundukkan kepala dan ianya sebagai adat. Ramai orang-orang Jepun yg pandai? Adakah ianya sebagai kebetulan? Kegemaran mereka ialah sushi (ikan mentah). Adakah ini kebetulan? Fikirkanlah!
Berpusat di New York , Dewan perniagaan Yahudi bersedia membantu mereka yang berminat untuk melakukan bisnes (sudah tentu untuk Yahudi sahaja) jika mereka ada idea yang bernas. Jawatan kuasa akan memberi pinjaman tanpa faedah dan pentadbir dari jawatan kuasa tadi akan bekerjasama dengan mereka untuk memastikan yang perniagaan mereka menurut landasan yg betul. Maka itu lahirlah Starbuck, Dell, Cocacola, DKNY, Oracle, Perfileman di Hollywood, Levis , Dunkin Donut dan ada beratus kedai ternama di bawah naungan dewan perniagaan Yahudi di New York . Graduan Yahudi dari fakulti perubatan New York akan disarankan untuk mendaftar di persatuan ini dan digalakkan memulakan klinik mereka sendiri dengan bantuan wang tanpa faedah. Barulah saya tahu mengapa hospital di New York dan California sentiasa kekurangan doktor pakar.
Kesimpulanya, pada teori saya melahirkan anak dan keturunan yg bijak boleh dilaksanakan dan tentunya bukan semalaman, ianya memerlukan masa, beberapa generasi mungkin? Persiapan awal adalah ketika sang ibu mengandung, galakkanlah si ibu melakukan latihan metamatik yg mudah tetapi konsisten disamping mendengar musik klasik. Seterusnya ubahlah cara pemakanan, makanlah makanan yg elok dan berkhasiat yg baik untuk otak, menghayati musik sejak kecil adalah baik sekali untuk penumbuhan otak kanak kanak. Dengan bermain piano dan violin sudah tentu dapat melatih anak anak mencerdaskan otak mereka demikian juga sukan yg memerlukan konsentrasi yg tinggi, seperti memanah, bola keranjang, dart dan menembak.
Merokok menjanjikan generasi yg moron (bodoh) dan sudah tentu gen yang bodoh akan mengikut ke generasi si perokok. Lawatan saya ke Singapore pada tahun 2005 amat memeranjatkan sekali. Di sini perokok seperti dianak tirikan dan begitu susah sekali untuk perokok dan anda tahu berapa harga sekotak rokok? US$ 7 bersamaan dengan RM ini bersamaan perbelanjaan sehari untuk makan anda!! Saya puji sekali sikap pemerintah Singapore dan menakjubkan sekali dan seperti Israel ianya begitu taboo dan cara pentadbiran dan segi pembelajaran mereka hampir serupa dengan Israel , maka itu saya lihat banyak institusi pelajaran mereka bertaraf dunia walaupun hakikatnya negeri Singapore hanyalah sebuah pulau sebesar Manhattan !!
Anda mungkin muskil, benarkah merokok dapat melahirkan generasi bodoh. Saya telah menemui beberapa bukti menyokong teori ini. Lihat saja Indonesia, jika anda ke Jakarta , di mana saja anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke muzium hidung anda akan segera terbau asak rokok dan harga rokok? Cuma US$0 .70cts !!! dan hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyakkah universiti terdapat di sana? Hasil apakah yg dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggeris? Ditangga berapakah kedudukan mereka di pertandingan metamatik sedunia? Adakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri.
Di tesis saya ini, saya tidak akan menimbulkan soal agama atau bangsa. Adakah Yahudi itu zalim sehingga diusir dari semenjak zaman Paraoh hingga ke Hitler? Bagi saya itu isu politik dan survival, yg ingin saya ketengahkan ialah, mampukah kita dapat melahirkan generasi yg bijak seperti Yahudi? Jawapannya ialah mungkin dan tidak mustahil dan ianya memerlukan perubahan. Dari segi pemakanan, cara mendididik anak dan saya kira hanya memerlukan 3 generasi sahaja. Ini dapat saya lihat sendiri tentang cucu saya, ini setelah saya mengajar anak saya melalui program yg telah saya nyatakan diatas tadi. Pada umur 9 tahun (cucu saya) dia dapat menulis essei sepanjang 5 muka surat penuh. Essienya hanyalah mengenai “Mengapa saya gemarkan tomato!”
Selamat sejahtera dan semuga kita dapat melahirkan manusia yg bijak dan bersifat mulia untuk kebaikan manusia sejagat tanpa mengenal batasan bangsa.
Dr. Stephen Carr Leon
Dipetik daripada Al-ahkam.net
Komen Saya :
Apa yang diamalkan oleh puak-puak yahudi sebenarnya adalah menurut apa yang ditetapkan oleh Islam kepada umatnya. Makan buahan sebelum makan makanan yang berat adalah amalan sunnah Nabi ketika makan. merokok adalah seseatu yang diharamkan Islam kepada umatnya. Yahudi tahu rokok tidak baik untuk kesihatan mental dan fizikal. Namun mereka cipta juga rokok, tetapi bukan untuk bangsa mereka, tetapi untuk menghancurkan bangsa yang lain. Mereka mencipta rokok agar mereka sahaja yang bijak dan bangsa lain akan menjadi lemah. Amat malang sekali mereka yang mengambil hukum rokok itu sebagai makruh sahaja. Sebenarnya amalan yang didasarkan oleh Islam itu praktikal dan telah terbukti memberi kesan yang baik kepada pengamalnya. Cuma kita telah lama dimomokkan dengan amalan yang dibawa oleh barat. Makan dengan sudu dan garfu lebih dipandang bergaya daripada yang menggunakan tangan. Malah ada yang berasa jijik apabila jari jemari disisip bersih selepas makan. Kepada rakan-rakan sekalian, marilah sama-sama kita berusaha mengamalkan walaupun sedikit amalan sunnah Nabi dalam kehidupan kita. kita mulakan amalan sunnah itu dengan mengamalkan amalan yang paling asas terlebih dahulu iaitu dengan membaca Bismillah dalam setiap aktiviti atau perkara yang dilakukan.
Salam ukhwah buat semua
selamat berubah kepada kehidupa baru
Ketika tahun kedua, akhir bulan December 1980 dan sedang saya menghitung hari untuk pulang ke California saya terfikir apakah sebabnya kaum Yahudi begitu pintar? Kenapa Tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau oleh manusia sendiri? Adakah bijak boleh dijana? Seperti kilang pengeluaran?
Maka saya pun tergerak membuat tesis untuk Phd saya, disamping kebaikan untuk umat sejagat dan dapat hidup secara harmoni. Untuk pengetahuan anda tesis yang saya lakukan ini mengambil masa hampir lapan tahun, ini kerana untuk mengumpulkan data-data yang setepat mungkin. Antara data-data yang saya kumpulkan ialah pemakanan, adat resam, agama, persiapan awal untuk melahirkan zuriat dan sebagainya dan data-data tadi saya cuba bandingkan dengan bangsa dan kaum kaum lain.
Marilah kita mulakan dengan persiapan awal melahirkan zuriat. Di Israel, setelah mengetahui yang sang ibu sedang mengandung, pertama kali saya perhatikan ialah, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano dan si ibu dan bapa akan membeli buku metamatik dan menyelesaikan masalah metamatik bersama suami, saya sungguh hairan kerana teman saya yang mengandung sering membawa buku metamatik dan bertanya kepada saya beberapa soalan yang beliau tak dapat menyelesaikanya. Oleh kerana saya memang minat tentang metamatik, tentu saja dengan senang saya bantu beliau. Saya bertanya kepada beliau, adakah ini untuk anak kamu? Beliau menjawab, Ya, ini untuk anak saya yang masih didalam kandungan. Saya sedang melatih otak anak saya. Semoga dia menjadi genius apabila dewasa kelak. Perkara ini membuat saya tertarik untuk mengikut perkembangan beliau seterusnya. Berbalik kepada metamatik tadi, tanpa merasa jemu beliau membuat latihan metamatik sehingga beliau melahirkan anak.
Seperkara lagi yang saya perhatikan ialah pemakanan beliau. Sejak awal mengandung beliau gemar sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu dan untuk tengah hari makan utama beliau ialah roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang digaul dengan badam dan berbagai jenis kekacang. Menurut beliau daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merosakkan pengembangan dan penumbuhan otak anak di dalam kandungan. Menurut beliau ini adalah cara orang orang yahudi ketika mengandung dan ianya menjadi semacam kewajipan untuk ibu-ibu yang sedang mengandung mengambil pil minyak ikan.
Ketika saya diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi, perkara pertama yang saya perhatikan ialah menu mereka. Setiap undangan yang saya perhatikan ialah mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet) dan biasanya daging tidak akan ada bersama di meja jika ada ikan. Menurut mereka, campuran daging dan ikan tak elok dimakan bersama. Salad dan kacang adalah suatu kemestian, terutama badam.
Seperkara yang pelik ialah mereka akan memakan buah buahan dahulu sebelum memakan hidangan utama. Jangan terperanjat jika anda diundang ke rumah Yahudi anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan karbohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk dan lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.
Di Israel, merokok adalah taboo, apabila anda diundang makan dirumah Yahudi, jangan sekali-kali merokok dan tanpa malu mereka akan menyuruh anda keluar dari rumah mereka supayaa merokok di luar rumah mereka. Menurut saintis di Universiti Israel , siasatan menunjukkan nikotin dapat merosakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada genes, ini bermakna keturunan perokok bakal membawa generasi yg cacat otak ( bodoh atau lembab). Suatu penemuan yg dahsyat ditemui oleh saintis yg mendalami bidang genes dan DNA. Para perokok harap ambil perhatian. (Ironi nya, pemilik pengeluar rokok terbesar adalah siapa? Tekalah sendiri..!)
Perhatian saya selanjutnya ialah melawati tadika mereka, Pemakanan anak anak tadi cukup dikawal, makanan awal ialah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever). Di dalam pengamatan saya, kanak-kanak Yahudi sungguh bijak dan rata-rata mereka memahami 3 bahasa iaitu Hebrew, Arab dan Inggeris dan sejak dari awal lagi mereka telah dilatih bermain piano dan violin. Ini adalah suatu kewajipan bagi mereka. Menurut mereka bermain muzik dan memahami nota notanya dapat meningkatkan lagi IQ kanak kanak dan sudah tentu bakal menjadikan budak itu bijak. Ini menurut saintis Yahudi, gegaran muzik dapat stimulate (semacam senaman untuk otak) maka itu terdapat ramai sekali genius muzik terdiri dari kaum Yahudi.
Seterusnya ke darjah 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar metamatik berkonsepkan perniagaan dan pelajaran sains amatlah diberi keutamaan. Di dalam perhatian peribadi saya, perbandingan dengan anak anak di California, ianya jauh berbeza tentang IQ dan boleh saya katakan 6 tahun kebelakang!!!. Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap dan difahami oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi sukan juga menjadi kewajipan bagi mereka dan sukan yg diberi keutamaan ialah memanah, menembak dan berlari. Menurut teman saya ini, memanah dan menembak dapat melatih otak memfokus sesuatu perkara disamping mempermudahkan persiapan untuk perhidmatan negara.
Selanjutnya pemerhatian saya menuju ke sekolah tinggi (menengah) di sini murid murid ditekan dengan pelajaran mata sains dan mereka digalakkan mencipta produk. Segala projek mereka walaupun kadangkala kelihatannya lucu dan mengarut, tetap diteliti dengan serius apatah lagi ianya berupa senjata, perubatan dan kejuruteraan. Idea itu akan dibawa ke institut tinggi di Politeknik dan Universiti.
Satu lagi yg diberi keutamaan ialah fakulti perniagaan. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka tentang perniagaan. Di akhir tahun di universiti, para penuntut di bidang niaga dikehendaki melakukan projek dan mempraktikkanya dan anda hanya akan lulus jika kumpulan anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US1juta! Anda terperanjat? Itulah kenyataan, dengan rangkaian seluruh dunia dan ditaja sepenuhnya oleh syarikat milik Yahudi. Maka tidak hairanlah mereka dapat menguasai perniagaan di dunia. Siapakah yg mencipta design Levis yang terkini? Ianya dicipta di Universiti Israel oleh fakulti bisnes dan fesyen.
Pernahkah anda melihat cara orang Yahudi melakukan ibadah mereka? Salah satu caranya ialah dengan menggoyangkan kepala mereka, menurut mereka ini dapat mengaktifkan otak mereka dan menambahkan oksijan dikepala, banyak ugama lain di Timur Tengah, seperti Islam juga ada menyuruh umatnya menunduk atau menggoyangkan kepala, ini guna dapat mensimulasikan otak kita supaya bertambah aktif (bezikir). Lihat orang orang Jepun, mereka sering menunduk nundukkan kepala dan ianya sebagai adat. Ramai orang-orang Jepun yg pandai? Adakah ianya sebagai kebetulan? Kegemaran mereka ialah sushi (ikan mentah). Adakah ini kebetulan? Fikirkanlah!
Berpusat di New York , Dewan perniagaan Yahudi bersedia membantu mereka yang berminat untuk melakukan bisnes (sudah tentu untuk Yahudi sahaja) jika mereka ada idea yang bernas. Jawatan kuasa akan memberi pinjaman tanpa faedah dan pentadbir dari jawatan kuasa tadi akan bekerjasama dengan mereka untuk memastikan yang perniagaan mereka menurut landasan yg betul. Maka itu lahirlah Starbuck, Dell, Cocacola, DKNY, Oracle, Perfileman di Hollywood, Levis , Dunkin Donut dan ada beratus kedai ternama di bawah naungan dewan perniagaan Yahudi di New York . Graduan Yahudi dari fakulti perubatan New York akan disarankan untuk mendaftar di persatuan ini dan digalakkan memulakan klinik mereka sendiri dengan bantuan wang tanpa faedah. Barulah saya tahu mengapa hospital di New York dan California sentiasa kekurangan doktor pakar.
Kesimpulanya, pada teori saya melahirkan anak dan keturunan yg bijak boleh dilaksanakan dan tentunya bukan semalaman, ianya memerlukan masa, beberapa generasi mungkin? Persiapan awal adalah ketika sang ibu mengandung, galakkanlah si ibu melakukan latihan metamatik yg mudah tetapi konsisten disamping mendengar musik klasik. Seterusnya ubahlah cara pemakanan, makanlah makanan yg elok dan berkhasiat yg baik untuk otak, menghayati musik sejak kecil adalah baik sekali untuk penumbuhan otak kanak kanak. Dengan bermain piano dan violin sudah tentu dapat melatih anak anak mencerdaskan otak mereka demikian juga sukan yg memerlukan konsentrasi yg tinggi, seperti memanah, bola keranjang, dart dan menembak.
Merokok menjanjikan generasi yg moron (bodoh) dan sudah tentu gen yang bodoh akan mengikut ke generasi si perokok. Lawatan saya ke Singapore pada tahun 2005 amat memeranjatkan sekali. Di sini perokok seperti dianak tirikan dan begitu susah sekali untuk perokok dan anda tahu berapa harga sekotak rokok? US$ 7 bersamaan dengan RM ini bersamaan perbelanjaan sehari untuk makan anda!! Saya puji sekali sikap pemerintah Singapore dan menakjubkan sekali dan seperti Israel ianya begitu taboo dan cara pentadbiran dan segi pembelajaran mereka hampir serupa dengan Israel , maka itu saya lihat banyak institusi pelajaran mereka bertaraf dunia walaupun hakikatnya negeri Singapore hanyalah sebuah pulau sebesar Manhattan !!
Anda mungkin muskil, benarkah merokok dapat melahirkan generasi bodoh. Saya telah menemui beberapa bukti menyokong teori ini. Lihat saja Indonesia, jika anda ke Jakarta , di mana saja anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke muzium hidung anda akan segera terbau asak rokok dan harga rokok? Cuma US$0 .70cts !!! dan hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyakkah universiti terdapat di sana? Hasil apakah yg dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggeris? Ditangga berapakah kedudukan mereka di pertandingan metamatik sedunia? Adakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri.
Di tesis saya ini, saya tidak akan menimbulkan soal agama atau bangsa. Adakah Yahudi itu zalim sehingga diusir dari semenjak zaman Paraoh hingga ke Hitler? Bagi saya itu isu politik dan survival, yg ingin saya ketengahkan ialah, mampukah kita dapat melahirkan generasi yg bijak seperti Yahudi? Jawapannya ialah mungkin dan tidak mustahil dan ianya memerlukan perubahan. Dari segi pemakanan, cara mendididik anak dan saya kira hanya memerlukan 3 generasi sahaja. Ini dapat saya lihat sendiri tentang cucu saya, ini setelah saya mengajar anak saya melalui program yg telah saya nyatakan diatas tadi. Pada umur 9 tahun (cucu saya) dia dapat menulis essei sepanjang 5 muka surat penuh. Essienya hanyalah mengenai “Mengapa saya gemarkan tomato!”
Selamat sejahtera dan semuga kita dapat melahirkan manusia yg bijak dan bersifat mulia untuk kebaikan manusia sejagat tanpa mengenal batasan bangsa.
Dr. Stephen Carr Leon
Dipetik daripada Al-ahkam.net
Komen Saya :
Apa yang diamalkan oleh puak-puak yahudi sebenarnya adalah menurut apa yang ditetapkan oleh Islam kepada umatnya. Makan buahan sebelum makan makanan yang berat adalah amalan sunnah Nabi ketika makan. merokok adalah seseatu yang diharamkan Islam kepada umatnya. Yahudi tahu rokok tidak baik untuk kesihatan mental dan fizikal. Namun mereka cipta juga rokok, tetapi bukan untuk bangsa mereka, tetapi untuk menghancurkan bangsa yang lain. Mereka mencipta rokok agar mereka sahaja yang bijak dan bangsa lain akan menjadi lemah. Amat malang sekali mereka yang mengambil hukum rokok itu sebagai makruh sahaja. Sebenarnya amalan yang didasarkan oleh Islam itu praktikal dan telah terbukti memberi kesan yang baik kepada pengamalnya. Cuma kita telah lama dimomokkan dengan amalan yang dibawa oleh barat. Makan dengan sudu dan garfu lebih dipandang bergaya daripada yang menggunakan tangan. Malah ada yang berasa jijik apabila jari jemari disisip bersih selepas makan. Kepada rakan-rakan sekalian, marilah sama-sama kita berusaha mengamalkan walaupun sedikit amalan sunnah Nabi dalam kehidupan kita. kita mulakan amalan sunnah itu dengan mengamalkan amalan yang paling asas terlebih dahulu iaitu dengan membaca Bismillah dalam setiap aktiviti atau perkara yang dilakukan.
Salam ukhwah buat semua
selamat berubah kepada kehidupa baru
Subscribe to:
Posts (Atom)
TIPS MENJELANG PEPERIKSAAN BUAT ADIK-ADIK YANG BAKAL MENDUDUKI PEPERIKSAAN
TIPS MENJELANG PEPERIKSAAN BUAT ADIK-ADIK YANG BAKAL MENDUDUKI PEPERIKSAAN Seperti yang kita sedia maklum, dua peperiksaan besar akan b...
-
Zaman benar-benar telah berubah. Guru-guru 20 tahun dahulu, tidak sama dengan guru-guru di zaman ini. Sebab itu masih kedengaran orang lama...
-
TIPS MENJELANG PEPERIKSAAN BUAT ADIK-ADIK YANG BAKAL MENDUDUKI PEPERIKSAAN Seperti yang kita sedia maklum, dua peperiksaan besar akan b...
-
Ketakutan Yang Memotivasikan Beberapa tahun yang lalu, ketika saya menyambung pengajian di UKM, pernah saya tidur di R n R kerana keletih...